الخميس، 25 أبريل 2013
الاثنين، 22 أبريل 2013
Program "Bahasa Arab untuk Semua" atau (العربية للجميع)
Berikut ini saya postingkan
di sini suatu program yang bagus yang perlu Anda ketahui:
Program "Bahasa Arab untuk Semua" atau (العربية للجميع)
- "Bahasa Arab untuk Semua" ( العربية للجميع ) adalah sebuah program non profit yang bertempat di Riyadh, Arab Saudi, dan berkhidmat ke segenap penjuru dunia.
- program di bina oleh para akademisi yang berkompeten di bidang Ilmu Bahasa Terapan (praktek bahasa).
- Bertujuan untuk memudahkan pengajaran Bahasa Arab untuk orang asing dan memanfaatkan teknologi modern demi kemajuan (pengajaran) Bahasa Arab.
- Memberi sumbangsih bagi pecinta Bahasa Arab berbagai produk dan pelayanan khusus untuk kemajuan pengajaran Bahasa Arab.
- Program ini menjalin kerja sama dengan pemerintah dan berbagai yayasan di segenap penjuru dunia untuk menyampaikan misinya.
+ Tujuan:
Program "Bahasa Arab untuk Semua" menggariskan beberapa tujuan yang jelas dan ingin di capai :
1. Membuat metode menyeluruh untuk memenuhi kebutuhan zaman ini.
2. Mengadakan bimbingan terpadu bagi pengajar Bahasa Arab
3. Produksi Program televisi dan radio.
4. Produksi Program Internet.
5. Menjalin kerja sama dan mendukung berbagai yayasan di segenap penjuru dunia
+ Metode yang digunakan :
Program "Bahasa Arab untuk Semua" mempunyai misi menciptakan pengajaran Bahasa Arab untuk orang asing dengan menggunakan teknologi modern untuk kelancaran pengajaran Bahasa Arab dan mendukung yayasan-yayasan yang mengajarkan Bahasa Arab di mana saja. Begitupula mementingkan buku panduan yang sistematik dan pelatihan bagi tenaga pengajar Bahasa Arab dengan memproduksi media pengajaran yang bervariasi.
- "Bahasa Arab untuk Semua" merasa yakin bahwa Bahasa Arab adalah mudah dan diminati selama diajarkan dengan metode yang benar yang mencakup empat unsur esensi dalam pengajaran yaitu :
(1) Metode yang bagus .
(2) Pengajar yang terlatih.
(3) Siswa yang bersungguh-sungguh .
(4) Lingkungan yang mendukung.
Misi dari program ini :
Memberi kemudahan pengajaran Bahasa Arab dan menyampaikannya pada mereka yang berminat untuk mendalaminya.
Pandangan :
Memanfaatkan keahlian para akademisi yang berkompeten di bidang bahasa arab untuk memajukan pengajaran Bahasa Arab dan menggunakan kemajuan teknologi dan media untuk menyampaikan Bahasa Arab pada mereka yang berminat.
Jalan menuju sukses :
Program "Bahasa Arab untuk Semua" dimulai tahun 2001 M. Produksinya mulai dikenal tahun 2003, sampai namanya menjadi yang pertama dalam program pengajaran Bahasa Arab untuk orang asing dan kerja sama dengan yayasan-yayasannya.
Tidak kurang dari 300 ribu pelajar, 3000 pengajar dan ratusan Perguruan Tinggi, pesantren dan sekolah di berbagai belahan dunia mendapatkan manfaat (yang besar) dari produk kami.
Saat ini "Bahasa Arab untuk Semua" ( العربية للجميع ) memikul tanggung jawab untuk mensukseskan program :
"Mencetak Bahasa Arab yang fasih pada setiap lisan", sebagaimana program
"Mencetak Bahasa Arab yang fasih pada setiap lisan", sebagaimana program
"Bahasa Arab dihadapan Anda (العربية بين يديك) " menunjukkan kesuksesan besar di berbagai belahan dunia baik negara islam maupun bukan, seperti:
( Indonesia – Malaysia – Cina – Pakistan – Rusia – Senegal – Afrika Selatan – Bosnia – Inggris – Brazil – Amerika )
Sumber
( Indonesia – Malaysia – Cina – Pakistan – Rusia – Senegal – Afrika Selatan – Bosnia – Inggris – Brazil – Amerika )
Sumber
Belajar Bahasa Arab, Mahasiswa RI Pilih Sudan
Aulia Akbar
Senin, 25 Maret 2013 17:46 wib
Ilustrasi. (Foto: ehow)
JAKARTA - Duta Besar Sudan untuk Indonesia Abd Al Rahim Al Siddig menilai, program kerjasama Indonesia dan Sudan dalam bidang pendidikan sangat baik. Keeratan hubungan itu ditunjukkan dengan adanya program beasiswa dan banyak pula dosen Sudan yang mengajar di Indonesia.
"Kita punya hubungan kerjasama yang baik, kita memberi beasiswa pada mahasiswa Indonesia yang ingin belajar bahasa Arab," ujar Siddig, saat dijumpai wartawan, di Kantor Kedubes Sudan, Jakarta, Senin (25/3/2013).
Siddig pun menyebut beberapa universitas yang ada di negaranya, beberapa di antaranya adalah Universitas Khartoum, Universitas Al-Azhar Sudan, dan lainnya. Namun sayangnya, hanya ada lima beasiswa yang diberikan Pemerintah Sudan untuk mahasiswa Indonesia. Sementara itu, ratusan mahasiswa Indonesia tetap memilih Sudan sebagai sarana untuk belajar bahasa Arab. Di Universitas Khartoum sendiri, terdapat kurang lebih 500 mahasiswa Indonesia.
Ketika membahas masalah pendidikan, Siddig menyinggung kunjungannya yang dilakukan selama tiga hari di Lombok. Pada saat itu, Siddig bertemu dengan asosiasi guru universitas di Lombok dan membahas dosen-dosen Sudan asal Universitas Ibrahim Malik yang mengajar di Indonesia.
Seperti diketahui, dalam kemitraan di bidang pendidikan, beberapa universitas Sudan telah menjalin kerja sama dengan Universitas Indonesia, Universitas Al Azhar Indonesia, dan Universitas di Purwokerto. Kunjungan Siddig ke Lombok juga ditujukan untuk memperkuat kerjasama yang sudah terjalin antara universitas kedua negara itu.(ade)
Sumber
Sumber
الأحد، 3 مارس 2013
Bahasa Arab Penting
Aib, Jika Umat Islam Tidak Bisa Bahasa Arab
Senin, 04 Maret 2013
Hidayatullah.com—Adalah merupakan aib, jika umat Islam bisa menguasai bahasa lain namun bahasa sendiri, bahasa Arab mereka tidak paham. Demikian disampaikan dosen bahasa dan sastra Arab Universitas al-Azhar Mesir Syeikh Mohyeddien Sa’id Abdullah Ahmad dalam sebuah Seminar Akbar Bahasa Arab di Yogyakarta.
“Aib bagi seorang Muslim yang sangat paham dengan bahasa selain bahasa Arab, namun mereka enggan untuk memahami dan mendalami bahasa Arab,” Sabtu (02/03/2013 ) kemarin.Seminar bertempat di gedung Pertemuan Hegar Yogyakarta membahas tentang “Revolusi Belajar Bahasa Arab Tanpa Harkat dengan Super Mudah, Cepat, Efektif dan Sangat Menyenangkan”.
Acara tersebut di hadiri oleh sekitar 80 peserta utusan dari berbagai macam lembaga pendidikan di Yogyakarta, mulai dari tingkat SD-MI, SMP-MTS,SMA-MA, dan bahkan perguruan tinggi.
Dalam paparannya Syeikh Mohyeddien Sa’id Abdullah Ahmad menyampaikan tentang urgensi bahasa arab bagi umat Islam.
Mohyeddien Sa’id Abdullah Ahmad mengatakan bahwa bahasa Arab adalah bahasa al-Qur’an. Bahasa Arab juga bahasa hadits dan bahasa ibadah sehingga setiap pribadi Muslim wajib memahaminya karena bahasa Arab adalah kunci dalam beragama dan merupakan pintu masuk dalam memahami al-Qur’an dan al Hadits.”*/yayan, jogja
Sumber
الاثنين، 15 أكتوبر 2012
MTs.N 1 Bandung Menggelar Bulan Bahasa
MTs.N 1 Bandung Menggelar Bulan Bahasa
شهر اللغات منها اللغة العربية
في المدرسة الثانوية الحكومية الأولى في بندونغ (إندونيسيا)
BANDUNG, (PRLM).- Madrasah Tsanawiyah Neger (MTs.N) 1 Bandung menggelar bulan bahasa yang menampilkan kemampuan berbahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Arab, dan bahasa Sunda. Acara dari Senin (15/10) dengan puncaknya pada peringatan Hari Sumpah Pemuda.
"Bulan Bahasa berupa workshop guru-guru empat bahasa dari MTs.N dan swasta se-Kota Bandung sebanyak 47 orang," kata Wakil Kepala MTs.N 1 Bandung bidang kurikulum, H. Ali Mursyid, di ruang kerjanya, Senin (15/10).
Lebih jauh Ali mengatakan, Bulan Bahasa juga diisi dengan lomba kompetensi anak-anak berupa lomba dialog bahasa Arab dan bahasa Indonesia berupa lomba mendongeng, buat slogan, membaca berita, dan menulis cerpen. "Sedangkan lomba bahasa Inggris berupa story telling, singing contest, dan reading. Untuk Bahasa Sunda berupa pidato dan pupuh," katanya.(A-71/A-147)***
Sumber
Sumber
الخميس، 11 أكتوبر 2012
Pengaruh Bahasa Arab di Indonesia Cukup Luas
10 Juli 2012 –
Jakarta (Pinmas)—Pengaruh bahasa Arab di Indonesia masih cukup luas, apalagi kitab suci Al Quran berbahasa Arab dan bahasa ini dipergunakan dalam kegiatan peribadatan. Demikian disampaikan Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar di Jakarta.
“Orang Indonesia sangat mengagumi bahasa Arab, karena bisa menikmati mufrodat (kosa kata) yang tidak ada dalam bahasa Indonesia,” kata Wamen pada pembukaan konferensi pengajaran bahasa Arab di Jakarta, Senin (9/7) malam.
Acara yang diikuti ratusan peserta dari manca negara diselenggarakan kerjasama Ittihadul Mudarrisi al-Lughatil al-‘Arabiyyah (IMLA) dengan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Menurut Wamen, bahasa Arab adalah bahasa lahir dan batin, sedang yang lain bahasa lahiriyah. “Sebagaimana mengupas batin Al Quran, satu baris bahasa Al Quran terjemahannya tiga baris bahasa Indonesia, sehingga sulit membedakan terjemah dengan tafsir,” kata guru besar yang juga Rektor Perguruan Tinggi Ilmu AL Quran (PTIQ).
Rektor UIN Jakarta, Komaruddin Hidayat mengatakan penyelenggaraan konferensi ini sebagai ajang diskusi antara guru-guru bahasa Arab di tanah air dengan peserta luar negeri yang sebagian besar dari negara Timur Tengah, dengan demikian mereka dapat menggali pengetahuan serta pengalaman secara langsung.
Menurut Komaruddin, pengajaran bahasa Arab di Indonesia saat ini tertinggal dibanding bahasa lain seperti Inggris. Disamping semakin menurunnya motivasi untuk mempelajari bahasa Arab, bahasa ini juga tidak dipergunakan sebagai bahasa ilmu pengetahuan.
“Bahasa Inggris punya kelebihan karena sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan bahasa bisnis,” ucap Komaruddin. (ks
التركي يستقبل وفد الجامعة المحمدية في إندونيسيا
استقبل الدكتور عبد الله بن عبد المحسن التركي ، الأمين العام لرابطة العالم الإسلامي ، وعضو هيئة كبار العلماء صباح أمس ، في مكتبه بالرياض وفد الجامعة المحمدية في إندونيسيا ، برئاسة رئيس الجامعة الدكتور مهاجر أفندي .
وتم خلال اللقاء مناقشة عدد من القضايا المشتركة بين رابطة العالم الإسلامي والجامعة المحمدية ، وفي مقدمة ذلك نشر اللغة العربية بين مسلمي إندونيسيا ، والتعاون في عقد الندوات والمؤتمرات الخاصة بتوجيه الشباب المسلم .
ووجه رئيس الجامعة المحمدية دعوة لمعالي الأمين العام للرابطة لزيارة إندونيسيا وحضور حفل مرور مائة عام على تأسيس الجامعة ، والمزمع إقامته في الفترة من 15-18 من شهر محرم ، من عام 1434هـ .
وأكد رئيس الجامعة المحمدية في إندونيسيا أن الجامعة تتواصل مع الجامعات في المملكة وهي تتعاون معها في مجال إعداد المناهج الدراسية ، ولا سيما مناهج الدراسات الإسلامية لأقسام الدراسات العليا .
وفي ختام اللقاء وجه رئيس الجامعة المحمدية الشكر لرابطة العالم الإسلامي والهيئات الإسلامية التابعة لها على تعاونها مع الجامعات الإسلامية في إندونيسيا .
استقبل الدكتور عبد الله بن عبد المحسن التركي ، الأمين العام لرابطة العالم الإسلامي ، وعضو هيئة كبار العلماء صباح أمس ، في مكتبه بالرياض وفد الجامعة المحمدية في إندونيسيا ، برئاسة رئيس الجامعة الدكتور مهاجر أفندي .
وتم خلال اللقاء مناقشة عدد من القضايا المشتركة بين رابطة العالم الإسلامي والجامعة المحمدية ، وفي مقدمة ذلك نشر اللغة العربية بين مسلمي إندونيسيا ، والتعاون في عقد الندوات والمؤتمرات الخاصة بتوجيه الشباب المسلم .
ووجه رئيس الجامعة المحمدية دعوة لمعالي الأمين العام للرابطة لزيارة إندونيسيا وحضور حفل مرور مائة عام على تأسيس الجامعة ، والمزمع إقامته في الفترة من 15-18 من شهر محرم ، من عام 1434هـ .
وأكد رئيس الجامعة المحمدية في إندونيسيا أن الجامعة تتواصل مع الجامعات في المملكة وهي تتعاون معها في مجال إعداد المناهج الدراسية ، ولا سيما مناهج الدراسات الإسلامية لأقسام الدراسات العليا .
وفي ختام اللقاء وجه رئيس الجامعة المحمدية الشكر لرابطة العالم الإسلامي والهيئات الإسلامية التابعة لها على تعاونها مع الجامعات الإسلامية في إندونيسيا .
الخميس، 4 أكتوبر 2012
القيام: اللغة العربية تتمتع بالرحابة والاتساع والمرونة
الأربعاء ٣\١٠\٢٠١٢
وأضاف المحاضر في الندوة التي نظمها بمنتدى عبدالحميد شومان الثقافي أول من أمس حول اللغة العربية بعنوان “رحابة اللغة وسلطة اللغويين”، وأدارتها الروائية ليلى الأطرش، أنه يشاع لفظ أو استعمالٍ لغوي على ألسنة الأدباء أو الكتاب يثير حفيظة بعض اللغويين، فيبادر هؤلاء إلى بحث ما شاع ثم تخطئته في كثير من الأحيان.
وأشار إلى أن القيام بالتصحيح اللغوي قد يؤدي إلى جعل الكتاب في حيرة من أمرهم، لندرة اتفاق اللغويين على التخطئة، فبعضهم يُخطّئ الاستعمال وبعضهم يُصوِّبه، مبينا أنه إذا ما اتفقوا على التخطئة فكثيرا ما اختلفوا على الوجه الصحيح الذي يجب أن يستعمل بدلا من المُخطّأ.
وبين المحاضر أن من مظاهر حيرة الكتّاب والصحفيين استعمالهم الوجهين الصحيح والمخطّأ في المقالة الواحدة، ظنا منهم أن كلا الوجهين جائز، أو هربا من الوقوع التام في الخطأ، مشيرا إلى أن استعمال الوجهين يكون، لا محالة، قد أصاب في إحدى المرتين، وذلك أفضل من استعمال وجه واحد قد يكون هو الوجه المُخطّأ.
وشدد القيام على ضرورة التمييز بين نوعين من الأخطاء اللغوية التي يحصيها اللغويون وينبهون عليها؛ النوع الأول هو “الأخطاء البينة” التي لا خلاف على خطئها، ولا استدراك على تخطئتها، موضحا أن هذا النوع، على تفشيه وانتشاره وخطورته، أيسر معالجة وأقل خطرا من النوع الآخر المختلف على تخطئته، الذي هو خطأ عند بعض اللغويّين.
واعتبر القيام أن ذلك الأمر يجعل كتابات كثير من اللغويين سببا في كراهية اللغة العربية، ومصدر رعب وفزع للأدباء والكتاب الحريصين على السلامة اللغوية؛ فلا يدري الكاتب، في كثير من الأحيان، من أين يؤتى؟ ولأنّه لا يتوقع من كلّ أديب أو كاتب أن يكون لغويا متمرسا في علم التحقيق اللغوي ومجالاته، فقد وجد الأدباء أنفسَهم بين أمرين أحلاهما مرّ: إمّا أن يجتنبوا كثيرًا من ألفاظ العربيّة وأساليبها حرصًا على اتّباع (الصحيح والفصيح) كما رآه اللغويّون، وإمّا أن يمضوا في الكتابة غير آبهين بما يصدر من (فتاوى لغويّة)، فيوصموا بقلّة التثبّت وعدم المعرفة.
ودعا القيام اللغويين المحققين إلى تدريس مناهج العلماء المحققين من أصحاب التصحيح اللغوي وتُطوَّر، لتُتّخذ هذه المناهج أصولاً وركائز للمجامع اللغويّة والمؤسّسات المعنيّة بخدمة اللغة العربيّة وتنقيتها بعيدًا عن الشّطط والاعتساف في الأحكام تخطئةً وتصويبًا.
وحول فائدة الكشف عن مناهج اللغويين المحقّقين، قال القيام: “تتابع الدراسات التي تتوسّم الكشف عن مناهج العلماء المحقّقين في مجال التصحيح اللغويّ، ما يُفضي إلى هدف أعمق وغاية أسمى؛ إذ يمكننا بهذه الدراسات أن نستنبط مبادئ التصحيح اللغويّ وقوانينه وأنظمته، ممّا يؤسّس إلى وضع أُطُرٍ وحدود ومعالم لبابٍ مهمّ من أبواب اللغة”.
السبت، 5 مايو 2012
إندونيسيا في الشبكات العنكبوتية: الملتقي الثقافي الثاني بين جامعة إندونيسيا وجامعة ...
إندونيسيا في الشبكات العنكبوتية: الملتقي الثقافي الثاني بين جامعة إندونيسيا وجامعة ...: الملتقي الثقافي الثاني بين جامعة إندونيسيا وجامعة الإمام
الملتقي الثقافي الثاني بين جامعة إندونيسيا وجامعة الإمام
الملتقي الثقافي الثاني بين جامعة إندونيسيا وجامعة الإمام
اللجنة الإعلامية
في صباح يوم الإثنين 9 / 6 / 1433 هـ
الموافق 30 / 4 / 2012 م وفي قاعة جامعة إندونيسيا قام سعادة مدير معهد
العلوم الإسلامية والعربية في جاكرتا فضيلة الدكتور أحمد بن صالح السديس
نيابة عن عميد شؤون الطلاب في جامعة الإمام محمد بن سعود الإسلامية
الدكتور عبد الرحمن الصغير ، بافتتاح مسابقة القرآن والسنة والتي تحمع
نخبة من طلاب الجامعتين ومعهد العلوم الإسلامية والعربية بجاكرتا. حيث بدأ
حفل الافتتاح بتلاوة مباركة للقرآن الكريم تلاها أحد طلاب جامعة إندونيسيا
عقبها كلمة رئيس اللجنة المنظمة الدكتور عبد المتعال ، أثنى فيها على جهود
المعهد في إقامة هذه المسابقة التي لها أثر على الثقافة ، وطالب بأن تكون
دورة سنوية بين البلدين لتقام في العام القادم في جامعة الإمام محمد بن
سعود الإسلامية في الرياض.
بعدها ألقى مدير شؤون الطلبة بجامعة
إندونيسيا الدكتور قمر الدين كلمة مماثلة أكد من خلالها حرص جامعتهم على
تبني مثل هذه المسابقات لتكون سنوية تتبادل إقامتها الجامعتان موضحا عراقة
جامعة إندونيسيا والتي تحتل المركز ال 34 عالميا ، وقد شكر إدارة المعهد
لاختيارها جامعتهم لإقامة هذه المسابقة مثنيا على جامعة الإمام ومؤكدا
مكانتها في خدمة الإسلام ونشره .
وفي ختام الحفل تفضل فضيلة الدكتور أحمد بن
صالح السديس مدير المعهد بإلقاء كلمة نيابة عن راعي الحفل عميد شؤون
الطلاب الدكتور عبد الرحمن الصغير شكر فيها جامعة إندونيسيا على تعاونها
مع المعهد وترحيبها بقبول إقامة هذه المسابقة على أرضها وأثنى على عراقة
هذه الجامعة باستقطابها لعشرات الآلاف من الطلاب وأوضح سروره في تنظيم مثل
هذه المسابقات لتحقيقها هدفين ، الهدف الأول لقاء الإخوة الأشقاء في ملتقى
ثقافي والهدف الثاني تحقيق حفظ القرآن والسنة. واختتم كلمته بحث الطلاب
المشاركين على مضافرة الجهود والاستفادة من مثل هذه اللقاءات الهادفة.
ثم قام سعادته يرافقه سعادة الدكتور قمر
الدين والوفد المشارك بجولة تفقدية واستطلاعية على قاعات المسابقات وصالة
الطعام وزيارة المعرض الذي أعده المعهد لهذه المناسبه للتعريف عن جامعة
الإمام والتراث السعودي ، والتقطت الصور لتوثيق هذه المسابقة . وفي الساعة
الواحدة قام الوفد المشارك يتناول طعام الغداء ثم انطلقت المسابقة والمقرر
انتهاء عملها في الحفل الختامي يوم الأربعاء 11 / 6 / 1433 هـ الموافق 2 /
5 / 2012 م
الأحد، 8 أبريل 2012
أندونيسيا.. تعاليم الدين البسيطة حببت أهلها في الإسلام
عمان – الدستور
المصدر
وصل العرب المسلمون إلى أندونيسيا منذ وقت مبكر على جناح التجارة واستوطنوا هناك. وبعد القرن السابع الميلادي، تحولوا إلى دعاة للإسلام الحنيف الذي وجد فيه الأندونيسيون حلولاً شافية لما يعانونه من تمزق ديني وظلم اجتماعي. وهذا يفسر لنا الإقبال المنقطع النظير الذي حظي به الإسلام.
حيث يشكل المسلمون نسبة 87% من عدد سكان اندونيسيا البالغ عددهم حوالي 96 مليون. والباقي أي نسبة 13% أديان اخرى.
ويعتبر الدين الإسلامي هو أكثر الاديان انتشاراً في اندونيسيا، حيث انتشر الاسلام عن طريق التجار المسلمين من الهند واليمن وحضرموت الذين كانوا يقيمون في جزر أندونيسيا فترات طويلة ويتزوجون من نسائها، ويختلطون بسكانها، ويأخذون عنهم بعض التقاليد والعادات، وتأثر اولئك السكان بوضوح العقيدة الاسلامية وبساطتها بما فيها من المساواة بين المؤمنين كما تأثروا بتفوق المسلمين في المدنية، وبإقبالهم على مؤاخاة أهل البلاد، وببعدهم عن الغايات الاستعمارية، فكان ذلك كله سبباً في انتشار العقيدة الاسلامية بينهم دون أن يقوم الخلفاء والسلاطين في الامبراطورية الاسلامية بأي عمل ايجابي في هذا الصدد.. وأنّ أول منطقة دخلها الاسلام هي سواحل سومطرة، وأنه بعد تكوين المجتمع الاسلامي كان الملك المسلم الأول في أجيه.
حيث يشكل المسلمون نسبة 87% من عدد سكان اندونيسيا البالغ عددهم حوالي 96 مليون. والباقي أي نسبة 13% أديان اخرى.
ويعتبر الدين الإسلامي هو أكثر الاديان انتشاراً في اندونيسيا، حيث انتشر الاسلام عن طريق التجار المسلمين من الهند واليمن وحضرموت الذين كانوا يقيمون في جزر أندونيسيا فترات طويلة ويتزوجون من نسائها، ويختلطون بسكانها، ويأخذون عنهم بعض التقاليد والعادات، وتأثر اولئك السكان بوضوح العقيدة الاسلامية وبساطتها بما فيها من المساواة بين المؤمنين كما تأثروا بتفوق المسلمين في المدنية، وبإقبالهم على مؤاخاة أهل البلاد، وببعدهم عن الغايات الاستعمارية، فكان ذلك كله سبباً في انتشار العقيدة الاسلامية بينهم دون أن يقوم الخلفاء والسلاطين في الامبراطورية الاسلامية بأي عمل ايجابي في هذا الصدد.. وأنّ أول منطقة دخلها الاسلام هي سواحل سومطرة، وأنه بعد تكوين المجتمع الاسلامي كان الملك المسلم الأول في أجيه.
وقد ظلت بعض القبائل البدائية في قلب الجزر الاندونيسية باقية على الوثنية ولم ينتشر الاسلام بين افرادها الاّ منذ القرن الثامن عشر، ولكن الفترة الواقعة بين القرنين الثالث عشر والثامن عشر كانت زاخرة بالفتوح السلمية التي استطاع الاسلام بفضلها أن يسود الحياة الدينية والاجتماعية والعقلية في اندونيسيا.
واكثر الجزر الاندونيسية ازدحاما بالسكان اذ تضم اكثر من 65 % من مجموع سكان البلاد وتعتبر بلادهم خامس دول العالم من حيث عدد السكان بعد الصين والهند والاتحاد السو فيتي والولايات المتحدة.
ويبلغ عدد المساجد الكبيرة في اندونيسيا وحدها نحو من 100,000 مسجد . في حين يبلغ عدد المساجد الصغيرة حوالي نصف مليون مسجد، تؤدى فيها الصلوات الخمس وتدرس فيها العلوم الاسلامية وتحفيظ القرآن الكريم .
واكثر الجزر الاندونيسية ازدحاما بالسكان اذ تضم اكثر من 65 % من مجموع سكان البلاد وتعتبر بلادهم خامس دول العالم من حيث عدد السكان بعد الصين والهند والاتحاد السو فيتي والولايات المتحدة.
ويبلغ عدد المساجد الكبيرة في اندونيسيا وحدها نحو من 100,000 مسجد . في حين يبلغ عدد المساجد الصغيرة حوالي نصف مليون مسجد، تؤدى فيها الصلوات الخمس وتدرس فيها العلوم الاسلامية وتحفيظ القرآن الكريم .
دخول الإسلام
انتقل الاسلام الى اندونيسيا من خلال التجار العرب الذين زاد نشاطهم وخاصة تجار عمان وحضرموت واليمن وبعث الاسلام روحا جديدة وحضارة راقية لدى سكان هذه الجزر. وهناك من المؤرخين من يرى ان الاسلام وصل الى اندونيسيا بعد توقف موجات الفتوحات الاسلامية في العصر العباسي. حيث انتشر المسلمون الى التجارة ونشر العلوم الاسلامية. واتجهت السفن من سواحل الجزيرة العربية الى المشرق ومعها العلماء والدعاة الذين وهبوا أنفسهم للدعوة الاسلامية.
ونزل هؤلاء التجار أولاً في شواطئ سومطرة الشمالية الغربية، ومن ثم تسللوا إلى ثغور جاوة الشمالية وبقية الجزر الأخرى. ولقد أثبتوا نشاطاً اقتصادياً لا يبارى وقدرة على الاتجار لا تجارى حتى وصلت سفنهم إلى أربعين سفينة تجوب أرخبيل الملايو، وساعدهم على ذلك حسن معاملة الأندونيسيين لهم، مما شجعهم على استمرار تجاراتهم واستيطان بعضهم هناك. وكان لهؤلاء العرب النصيب الأوفر في نشر الإسلام لاحقاً.
وتذكر مصادر أخرى أن تجار اندونيسيا كانوا يحضرون الى بلاط الخليفة العباسي هارون الرشيد في القرن الثاني الهجري وعند عودتهم منها كانوا يحملون معهم العقيدة الاسلامية ونشرها بين مواطنيهم.
ونظرا لوضوح العقيدة الاسلامية في الامور الدينية والاخلاقية والاجتماعية بالاضافة الى بساطة تعاليم الاسلام في المساواة والعدل بين المسلمين فقد ادى ذلك الى اعتناق الكثيرين للاسلام عن قناعة وإيمان وعقيدة وحدث تزاوج بين العرب والنساء الاندونيسيات. وعنصر الملايو هو الذي دخل معظم الناس فيه الى الاسلام واكثريتهم يقيمون في جزيرة جاوة . ويتكلم السكان اكثر من ثلاثين لغة الا ان اللغة المالاوية هي الاكثر انتشارا ومع ذلك فإن الاندونيسيين يفضلون اللغة العربية ويتمنون تعلمها وانتشارها في بلادهم.
ونزل هؤلاء التجار أولاً في شواطئ سومطرة الشمالية الغربية، ومن ثم تسللوا إلى ثغور جاوة الشمالية وبقية الجزر الأخرى. ولقد أثبتوا نشاطاً اقتصادياً لا يبارى وقدرة على الاتجار لا تجارى حتى وصلت سفنهم إلى أربعين سفينة تجوب أرخبيل الملايو، وساعدهم على ذلك حسن معاملة الأندونيسيين لهم، مما شجعهم على استمرار تجاراتهم واستيطان بعضهم هناك. وكان لهؤلاء العرب النصيب الأوفر في نشر الإسلام لاحقاً.
وتذكر مصادر أخرى أن تجار اندونيسيا كانوا يحضرون الى بلاط الخليفة العباسي هارون الرشيد في القرن الثاني الهجري وعند عودتهم منها كانوا يحملون معهم العقيدة الاسلامية ونشرها بين مواطنيهم.
ونظرا لوضوح العقيدة الاسلامية في الامور الدينية والاخلاقية والاجتماعية بالاضافة الى بساطة تعاليم الاسلام في المساواة والعدل بين المسلمين فقد ادى ذلك الى اعتناق الكثيرين للاسلام عن قناعة وإيمان وعقيدة وحدث تزاوج بين العرب والنساء الاندونيسيات. وعنصر الملايو هو الذي دخل معظم الناس فيه الى الاسلام واكثريتهم يقيمون في جزيرة جاوة . ويتكلم السكان اكثر من ثلاثين لغة الا ان اللغة المالاوية هي الاكثر انتشارا ومع ذلك فإن الاندونيسيين يفضلون اللغة العربية ويتمنون تعلمها وانتشارها في بلادهم.
ممالك إسلامية
أخذ الاسلام يتوسع الى ان اسس المسلمون في هذه البقاع مملكة (برلاك) التي تحدث عنها الرحالة الاوروبي ماركو بولو سنة 1292مـ في جزيرة سومطرة التي لم تخلوا هي الاخرى من جاليات إسلامية.
وشهدت (مملكة برلاك) نهضة إسلامية غامرة، حيث تأسست المساجد ومعاهد التعليم الإسلامي كما صكَّت النقود الإسلامية للمرة الأولى في إندونيسيا وكانت تحمل الكتابات العربية وقد استطاعت هذه المملكة أن تصدّ هجوم دولة (سري ويجايا) البوذية.
كما أسس المسلمون عدة ممالك اسلامية في جزر مختلفة في اندونيسيا واهمها (مالاقا) في الملايو. ومملكة (سومطرة) التي زارها الرحالة العربي ابن بطوطة في القرن الثامن الهجري. ومملكة (بنتن) في غرب جاوة أسسها السلطان حسن الدين في القرن التاسع الهجري. ومملكة (ديماك) في وسط جاوه اسسها السيد رمضان في القرن الثامن الهجري. ومملكة (مقارم) في شرق جاوه. ومملكة (بالمباج) في جنوب سومطرة. ومملكة (آتشيه) في شمال سومطرة التي يعتبرها البعض اول مملكة اسلامية.
وفي العام 388هـ قامت دولة إسلامية في (ياساي) التي دعمت علاقاتها بدولة (برلاك) الإسلامية وفي العام 601هـ قامت مملكة (أجيه) وقد توحدت هذه الممالك الإسلامية بقيادة السلطان) علي مغايت شاه(، وأطلق عليها اسم) مملكة دار السلام(، وذلك منذ العام 916هـ، وقد بلغت هذه الدولة الإسلامية قمة ازدهارها في عهد السلطان ) إسكندر مودا( حيث ازدهرت الدعوة الإسلامية، وتأسس هناك جيش قوي كما انتعشت مسيرة البحث العلمي الإسلامي والاقتصاد الإسلامي وأصبح لهذه المملكة علاقات دبلوماسية قوية مع دولة الخلافة الإسلامية العثمانية.
وتعرف اندونيسيا بالاولياء التسع وهم علماء ساهموا في نشر الدعوة الاسلامية وفي رقي باقي مناحي الحياة في تلك الجزر.
كما ظهر في جزيرة ) جاوا( مجموعة من العلماء عُرفوا في التاريخ الإندونيسي باسم (الأولياء التسعة) وقد كانوا دعاة وخبراء في الزراعة والاقتصاد وأبطال معارك واشتركوا في إدارة شؤون الدولة منهم الداعية (شريف هداية الله)، وهو الذي بنى مدينة (جاكرتا) العاصمة، بعد أن هزم المستعمر البرتغالي العام 1527م وقامت بعد ذلك ممالك إسلامية في إندونيسيا في (كاليمنتان) و(سولاوليسي)و(مالوكو)، وطُبقت الشريعة الإسلامية في هذه الممالك وكانت المعاهد والجامعات تدرس بها علوم الإسلام.
وشهدت (مملكة برلاك) نهضة إسلامية غامرة، حيث تأسست المساجد ومعاهد التعليم الإسلامي كما صكَّت النقود الإسلامية للمرة الأولى في إندونيسيا وكانت تحمل الكتابات العربية وقد استطاعت هذه المملكة أن تصدّ هجوم دولة (سري ويجايا) البوذية.
كما أسس المسلمون عدة ممالك اسلامية في جزر مختلفة في اندونيسيا واهمها (مالاقا) في الملايو. ومملكة (سومطرة) التي زارها الرحالة العربي ابن بطوطة في القرن الثامن الهجري. ومملكة (بنتن) في غرب جاوة أسسها السلطان حسن الدين في القرن التاسع الهجري. ومملكة (ديماك) في وسط جاوه اسسها السيد رمضان في القرن الثامن الهجري. ومملكة (مقارم) في شرق جاوه. ومملكة (بالمباج) في جنوب سومطرة. ومملكة (آتشيه) في شمال سومطرة التي يعتبرها البعض اول مملكة اسلامية.
وفي العام 388هـ قامت دولة إسلامية في (ياساي) التي دعمت علاقاتها بدولة (برلاك) الإسلامية وفي العام 601هـ قامت مملكة (أجيه) وقد توحدت هذه الممالك الإسلامية بقيادة السلطان) علي مغايت شاه(، وأطلق عليها اسم) مملكة دار السلام(، وذلك منذ العام 916هـ، وقد بلغت هذه الدولة الإسلامية قمة ازدهارها في عهد السلطان ) إسكندر مودا( حيث ازدهرت الدعوة الإسلامية، وتأسس هناك جيش قوي كما انتعشت مسيرة البحث العلمي الإسلامي والاقتصاد الإسلامي وأصبح لهذه المملكة علاقات دبلوماسية قوية مع دولة الخلافة الإسلامية العثمانية.
وتعرف اندونيسيا بالاولياء التسع وهم علماء ساهموا في نشر الدعوة الاسلامية وفي رقي باقي مناحي الحياة في تلك الجزر.
كما ظهر في جزيرة ) جاوا( مجموعة من العلماء عُرفوا في التاريخ الإندونيسي باسم (الأولياء التسعة) وقد كانوا دعاة وخبراء في الزراعة والاقتصاد وأبطال معارك واشتركوا في إدارة شؤون الدولة منهم الداعية (شريف هداية الله)، وهو الذي بنى مدينة (جاكرتا) العاصمة، بعد أن هزم المستعمر البرتغالي العام 1527م وقامت بعد ذلك ممالك إسلامية في إندونيسيا في (كاليمنتان) و(سولاوليسي)و(مالوكو)، وطُبقت الشريعة الإسلامية في هذه الممالك وكانت المعاهد والجامعات تدرس بها علوم الإسلام.
عهد الخلفاء الراشدين
أول المناطق التي وصل اليها الاسلام في العام 55 الهجري (674) م في عهد الخلفاء الراشدين هي شواطي سومطرة الشمالية، واول مملكة اسلامية قامت في اندونيسيا وفي منطقة جنوب شرق اسيا كلها هي مملكة بيرلاك عام 840 ه(226 م) في شمال سومطرة، واول ملوكها هو السلطان علاء الدين سيد مو لانا عبد العزيز شاه. وبعد مملكة بيرلاك قامت عام 1205( 602 هـ ) مملكة أتشيه الاسلامية التي ترسخت علاقتها ببلاد العرب وتوطدت فيها احكام الشريعة الاسلامية. وكان اول ملوكها السلطان جيهان شاه الذي قدم الى سواحل اتشيه داعيا الى الاسلام واستطاع ان يدخل الكثيرين في هذا الدين، وتزوج أميرة من اهالي البلاد فرحبوا به ملكا عليهم وتلقب بلقب «سري بدوكا سلطان». وقد لقبت منطقة اتشيه بلقب (سلاملك مكة) اي الصالة الامامية لمكة.
ويدل على روعة الاسلام انتشاره في هذه البقاع النائية من قارة آسيا.
التاريخ : 30-03-2012ويدل على روعة الاسلام انتشاره في هذه البقاع النائية من قارة آسيا.
السبت، 24 مارس 2012
الأحد، 15 يناير 2012
سعَآډةُ آلٱنسآڼ
سعَآډةُ آلٱنسآڼ في :
☆ ٱلشّگرُ عَلى ٱلعَطيّہ ..
☆ ۈٱلصَبر عَلى ٱلبليّہ ..
☆ ۈ ٱلٱسّٺغفآړ عند ٱلخَطيئَہ ..
KEBAHAGIAAN MANUSIA TERLETAK PADA
BERSYUKUR ATAS ANUGERAH
BERSABAR ATAS UJIAN
DAN BERISTIGHFAR KETIKA BERSALAH
ورقة علمية قطرية في ندوة عن اللغة العربية بإندونيسيا
كتبت - هناء صالح الترك:
شارك الدكتور رمضان أحمد عبد النبي عامر عضو هيئة التدريس بقسم اللغة العربية بكلية الآداب والعلوم بجامعة قطر في الندوة الدولية حول تجربة تعليم اللغة العربية في إندونيسيا، وذلك بمناسبة الاحتفال باليوم العالمي للغة العربية واختيار جاكرتا عاصمة الثقافة الإسلامية للعام 2011.
تم تنظيم الندوة من قبل البرنامج الخاص لتعليم اللغة العربية بجامعة مولانا مالك إبراهيم الإسلامية الحكومية بمالانق إندونيسيا بالتعاون مع جمعية الدعوة والتعليم في جنوب شرق آسيا، حيث قدم ورقة علمية تناولت أثر القرآن الكريم في تحقيق الضبط والصواب اللغويين عند دارس العربية ومتعلمها.. ألقت الدراسة الضوء على أثر حفظ القرآن الكريم ومُدَارستِه في تقويم لغة متعلمي العربية وتحقيق الصواب اللغوي لديه، وإقامة اللغة العربية لدى كثيرين منهم، وتحولهم عن لغاتهم الأصلية (الأم) إلى اللغة العربية مرتبطين بالنص القرآني والرغبة الشديدة في فهمه وإدراك دلالاته وفهم أحكامه ومقاصده.
الجمعة، 15 يوليو 2011
معلمو العربية بإندونيسيا والسنغال يتعرفون على معالم مكة المكرمة
الجمعة 1432/8/14 هـ 2011/07/15 م
حسين الرابغي - جدة
شارك 40 معلما من معلمي اللغة العربية في جامعات ومعاهد إندونيسيا والسنغال ممن يشاركون فى دورات معهد تعليم اللغة للناطقين بغيرها بجامعة أم القرى في جولة تعريفية بمعالم مكة المكرمة شملت المشاعر المقدسة. واستغرقت خمس ساعات بدأت بزيارة الحديبية، واستعرض المعلمون مع القائمين على البرنامج أحداث الصلح الشهير. ثم انطلق المعلمون إلى جبل ثور متذكرين حدث الهجرة النبوية ووقائعها وما صاحبها من أحداث حفظتها السيرة النبوية، بعدها توجّه الركب إلى المشاعر المقدّسة بدءاً بعرفات، حيث تمت زيارة مسجد نمرة، والوقوف عند جبل «الرحمة» وشاهدوا في طريقهم إلى مزدلفة قطار المشاعر متحركاً في جولة دورية له، كما وقفوا عند جسر الجمرات، مطلعين على عظمة المشروع وعظيم الإنجاز. شارك في الجولة كلٌ من الدكتور حسن بخاري المشرف الثقافي للدورة، وعبدالله بارضوان، ومحمد باحمادي، وصالح الدعدي.
حسين الرابغي - جدة
شارك 40 معلما من معلمي اللغة العربية في جامعات ومعاهد إندونيسيا والسنغال ممن يشاركون فى دورات معهد تعليم اللغة للناطقين بغيرها بجامعة أم القرى في جولة تعريفية بمعالم مكة المكرمة شملت المشاعر المقدسة. واستغرقت خمس ساعات بدأت بزيارة الحديبية، واستعرض المعلمون مع القائمين على البرنامج أحداث الصلح الشهير. ثم انطلق المعلمون إلى جبل ثور متذكرين حدث الهجرة النبوية ووقائعها وما صاحبها من أحداث حفظتها السيرة النبوية، بعدها توجّه الركب إلى المشاعر المقدّسة بدءاً بعرفات، حيث تمت زيارة مسجد نمرة، والوقوف عند جبل «الرحمة» وشاهدوا في طريقهم إلى مزدلفة قطار المشاعر متحركاً في جولة دورية له، كما وقفوا عند جسر الجمرات، مطلعين على عظمة المشروع وعظيم الإنجاز. شارك في الجولة كلٌ من الدكتور حسن بخاري المشرف الثقافي للدورة، وعبدالله بارضوان، ومحمد باحمادي، وصالح الدعدي.
الاثنين، 11 يوليو 2011
الحجاج والجاحظ في { المجلة العربية للعلوم}
12/7/2011م
صدر عن مجلس النشر العلمي بجامعة الكويت العدد 115 من المجلة العربية للعلوم الانسانية لصيف 2011 مشتملا على عدة بحوث ادبية واعلامية لاكاديميين من جامعات مختلفة.
وتضمن العدد مجموعة من البحوث جاء اولها بعنوان «اثر التعدد الاعرابي في القرآن الكريم .. خبر المبتدأ المضمر نموذجا» للدكتور عبد المحسن الطبطبائي من قسم اللغة العربية بجامعة الكويت حيث تطرق البحث الى توضيح مسألة اضمار المبتدأ في القرآن الكريم ومدى اهتمام المفسرين ومعربي القرآن بهذا الجانب.
وجاء البحث الثاني بعنوان «الحجاج عند الجاحظ .. بحث في المرجعيات والنصيات والآليات» للدكتور هيثم سرحان من قسم اللغة العربية بجامعة فيلادلفيا الاردنية ويكشف فيه عن تجليات الحجاج السردي عند الجاحظ بالوقوف على مرجعياته وآلياته ونصياته لاستخراج معالم الخطاب الحجاجي وصيغه الدلالية حيث ان الخطاب الحجاجي ذو ابعاد تداولية.
اما البحث الثالث فيحمل عنوان «الاضطرابات النطقية في اصوات الصفير في العربية .. دراسة وصفية وتحليلية» للدكتورة ابتسام حسين جميل من قسم اللغة العربية بجامعة الاسراء الاردنية.
وتعالج الدكتورة جميل في بحثها موضوع الاضطرابات النطقية الماثلة في اصوات الصفير الهسيسي في العربية وتوقفت عند خصائص مجموعة من الاصوات في حال نطقها السليم عند كل من القدماء والمحدثين. وكان البحث الرابع بعنوان «الصحافة الأردنية اليومية بين الضغوط وتأدية المهنة» للدكتور محمد هاشم السلعوس من كلية الاعلام بجامعة اليرموك الاردنية حيث ناقش في البحث الضغوط التي يتعرض لها الصحافيون في بعض الصحف ووضع عددا من التوصيات التي يمكن ان تساهم في تحسين الاداء الصحافي في تلك الصحف.
وجاء في القسم الانكليزي من المجلة بحث بعنوان «الخصائص النحوية والادراكية الدلالية لحالة المعية في العربية والانكليزية» للدكتور محمد عبد المجيد منصور من قسم اللغة الانكليزية بجامعة الملك خالد بالمملكة العربية السعودية وتوصل هذا البحث الى انه مع وجود بعض الاختلاف بين اللغتين الا انهما تسلكان السلوك نفسه في التعبير النحوي والدلالي الادراكي عن حالة المعية كما تضمن باب مراجعات وعروض الكتب مراجعة للاصدارات الحديثة.
المصدر
المصدر
الثلاثاء، 31 مايو 2011
المؤتمر الدولي السابع للغة العربية " دور اللغة العربية في عملية البناء الحضاري " في إندونيسيا في 13-16 شعبان 1432هـ 14-17 يوليو 2011،
| الكاتب صوت العربية |
سيعقد اتحاد مدرسي اللغة العربية بإندونيسيا المؤتمر الدولي السابع بالتعاون مع جامعة غاجه مادا وجامعة سونان كاليجاغا الإسلامية الحكومية يوغياكرتا تحت عنوان :" دور اللغة العربية في عملية البناء الحضاري " الذي سينعقد في رحاب جامعة غاجه مادا و جامعة سونان كاليجاغا الإسلامية الحكومية بمدينة يوغياكرتا و ذلك في الفترة ما بين 14-17 يوليو 2011 ويعود اختيار هذا العنوان موضوعاً للمؤتمر إلى الرغبة في : 1- رصد أهم الممارسات السياسية القومية والعالمية المتعلقة باللغة العربية وأثر ذلك على فعالية الدرس العربي. 2- صياغة استراتيجيات متكاملة لخطاب سياسي لغوي بديل، ولممارسة سياسية لغوية بديلة، من أجل تجاوز أزمة العربية الراهنة ولتمكين متعلم اللغة العربية من لعب دور أكثر فعالية في عملية البناء الحضاري لإنسان الحضارة. 3- التعرف على سبل الحفاظ على الهوية اللغوية والثقافية فى عصر العولمة وتحقيق التواصل مع الجهات التى تهتم بحوار الحضارات إقليمياً ودولياً 4- دعم وتشجيع الجهود المخلصة التي تعمل على النهوض باللغة العربية وآدابها في العالم والتصدي للدعوات التي تنادي بإقصاء اللغة العربية وآدابها. 5- تشخيص التحديات والمشكلات التي تواجه الأفراد والمؤسسات الحكومية والأهلية في مجال اللغة العربية وثقافتها وتقديم الحلول والإقتراحات المناسبة. 6- رفع مستوى الوعي باللغة العربية وثقافتها وتشجيع المبادرات الخلاقة التي تسهم في دعمها وتعزيز مكانتها بين لغات العالم. 7- استكشاف الجديد فى مجال علوم اللغة (نظريا وتطبيقيا)، والآداب، والترجمة، والثقافة والسعي إلى الإستفادة منها في خدمة اللغة العربية. 8- الوقوف على المناهج اللغوية الحديثة وتطبيقاتها والإستفادة من وسائل التقنية الحديثة في خدمة اللغة العربية. آخر موعد لإرسال ملخص البحث 15 مارس 2011 آخر موعد لإرسال البحث كاملا 28 يونيو 2011 محاور المؤتمر : سيعالج المؤتمر قضايا هامة تتعلق بالمحاور التالية : المحور الأول : اللغة العربية بين لغة السياسة وسياسة اللغة 1- السياسات اللغوية في مجال تحديد الهوية الحضارية والحوار بينها 2- السياسات اللغوية في المجال السياسي والاقتصادي والأمني على المستوي القطري والإقليمي والعالمي 3- السياسات اللغو ية في مجال إصلاج بنية معلوماتية للغة العربية 4- السياسات اللغو ية في مجال إصلاج موارد بشرية للغة العربية 5- السياسات اللغوية في مجال إصلاح النظام الداخلي للغة العربية 6- تحويل النمط (اللغة) في الخطاب السياسي المحور الثاني : الدرس العربي وبناء الشخصية المتمدنة 1- تحليل حاجات المتعلمين في مجال تعليم اللغة العربية 2- تحليل مواقف سياقية لتعليم اللغة العربية 3- كفابات معلم اللغة العربية في عصر العولمة 4- استخدامات التقنيات التربوية المتطورة في تعليم اللغة العربية 5- تجارب بعض الهيئات التعليمية في إعداد البرامج التعليمية المتطورة 6- مستوى الجودة المطلوب للمتخريجين في كليات اللغة العربية المحور الثالث : قضايا التفاعل بين الثقافات وأثرها في اللغة العربية 1- مقياس الجودة للغة العربية 2- بين اللغة العربية الفصحى واللهجات 3- اللغة العربية بين المكتوبة والمنطوقة 4- التطورات التي لحقت باللغة العربية من أثر الثقافات المحلية والعالمية 5- طغبان اللغة الأجنيبة على اللغة العربية 6- الهجرة والاندماج الثقافى المحور الرابع : النظريات اللغوية العربية بين الأصالة والمعاصرة 1- ابتكارات العرب في صناعة المعاجم 2- أسبقية العرب في علم الأصوات على الغرب 3- تبني علماء العرب للنظريات اللغوية الجديثة 4- دور مجمع اللغة في تطوير اللغة العربية 5- استفادة اللسانيات الأجنبية من اللسانيات العربية 6- المستجدات في الدراسات اللسانية المحور الخامس : الأدب العربي والأداب العالمية بين التفاعل الإيجابي و السلبي 1- تأثير المترجم التحريري والمترجم الفوري فى التفاوض الدولي 2- ماتضيفه تكنولوجيا المعلومات والاتصالات، ودورها فى عملية الترجمة 3- إسهامات علم النقد الأدبي في دراسات النصوص الدينية 4- تفعيل دور المكتبات في نشر الأدب العربي وتطويرها 5- أدب الأطفال وأثره في بناء الشخصية اللغوية 6- تحقيق المخطوطات، ضرورة لإنقاذ التراث معايير البحوث : 1- أن يكون حجم الخط في كتابة البحث (14)، وأما الحواشي فتكون بحجم (11). على نظام ويندوز بخط (Traditional Arabic)، مع ترك مسافة 2.5 سم في جوانب الصفحة الأربعة، وأن يتراوح البحث ما بين(15) إلى (20) صفحة. 2- أن يذكر في أعلى الصفحة عنوان البحث و اسم الكاتب و الجهة الموفدة 3- أن يعالج البحث لب الموضوع دون الإطالة أو الإسهاب فيما لا يتعلق به 4- أن يكتب الهوامش أو التذييل بشكل FOOTNOTE وليس ENDNOTE 5- أن يرفق البـاحثُ مع بحثه سيرةً ذاتيةً له، وصورةً حديثة، وتُرسـلُ بالبريد الالكتروني 6- أن يذكر البحث التوصات المترتبة من بحثه في ختام البحث 7- جميع بحوث المؤتمر تُعرض للتحكيم وَفْقَ الشروط المتبعة أكاديميًا 8- يرسل الملخص أو البحث الكامل إلى البريد الإلكتروني: sekjen_imla@yahoo.co.id أو al.hadarah_imla@yahoo.co.idهذا البريد الإلكتروني محمي من المتطفلين و برامج التطفل، تحتاج إلى تفعيل جافا سكريبت لتتمكن من مشاهدته هذا البريد الإلكتروني محمي من المتطفلين و برامج التطفل، تحتاج إلى تفعيل جافا سكريبت لتتمكن من مشاهدته رسم الاشتراك : 1- المشارك من خارج إندونيسيا 350 دولار أمركي و يغطي هذا الرسم الفندق والوجبات لمدة 3 ليال و حقيبة المؤتمر و مجموعة البحوث المطبوعة و التنقلات من و إلى مكان المؤتمر و الفندق. 2- المشارك من داخل إندونيسيا 600 ألف روبية و يغطي هذا الرسم التسجيل و الفندق مدة ليلتين والوجبات وحقيبة المؤتمر دون مجموعة البحوث. الاتصال : 1- د. تولوس مصطفى (رئيس اللجنة ) : 0062818466787 2- د.فيصل هندرا ( رئيس اللجنة الاستشارية) :006281514447321 2- د. أندي هاديانتو (الأمين العام لاتحاد مدرسي اللغة العربية) : 006285281455274 4- أ. علي عبد المنعم (قسم العلاقات العامة) : 006285290092323 جدول المواعيد : 14 يوليو 2011 الساعة 7،00 ليلا حتى 9 ليلا – حفلة الاستقبال 15 يوليو 2011 الساعة 8،00 صباحا حتى 11،00 صباحا – الحفلة الافتتاحية و الجلسة الموسعة الأولى الساعة 1،00 ظهرا حتى 5.00 مساء - الجلسة الموسعة الثانية الساعة 7،00 ليلا حتى 10،00ليلا - الجلسات المتوازية الأولى 16 يوليو 2011 الساعة 8،00صباحا حتى 11،00صباحا – الجلسات المتوازية الثانية الساعة 11،00 ظهرا حتى 1،00ظهرا - الجلسات المتوازية الثالثة الساعة 1،30 ظهرا حتى 5،00 مساء - الجلسات المتوازية الرابعة الساعة 7،00 ليلا حتى 10،00ليلا - العرض الفني (قابل للتغيير) 17 يوليو 2011 الساعة 8،00 صباحا حتى 10،00 صباحا – الجلسات المتوازية الخامسة الساعة 10،00 صباحا حتى 12،00 ظهرا - الحفلة الختامية استمارة المشاركة: المرتمر الدولي للغة العربية السابع ( دور اللغة العربية في عملية البناء الحضاري ) 14-17 يوليو 2011 المصدر |
الاثنين، 14 مارس 2011
حجب "اللغة العربية والأدب" للمرة الثالثة خلال 10 سنوات
عبدالرحمن الهواري
أبها: حسين السويدي 2011-03-14 2:48 AM
حجبت جائزة الملك فيصل العالمية فرع اللغة العربية والأدب، هذا العام، وذلك لعدم توافر متطلبات الفوز بالجائزة في الأعمال المرشحة.
وكانت جائزة "اللغة العربية والأدب" قد سبق حجبها ثلاث مرات خلال السنوات العشرالأخيرة وذلك في دورة الجائزة لعام 1423، و1425، إضافة إلى هذا العام 1431.
يذكر أن الجائزة قد حازها في عام 1419 كل من الدكتورة مكارم أحمد الغمري من مصر، والدكتور سعيد عبدالسلام علوش من المغرب، وفي عام 1420، كانت من نصيب الدكتور عبدالله الطيب من السودان، والدكتور عزالدين إسماعيل عبدالغني من مصر، وفي عام 1421 حاز عليها بالاشتراك كل من الدكتور إبراهيم عبدالرحيم السعافين من الأردن، والدكتور منصور الحازمي من السعودية، وفي عام 1422، حصدها الدكتور حسام الدين أمين الخطيب من سوريا، والدكتور حسني محمود حسين من الأردن.
وعاودت الجائزة حضورها في عام 1424، وذلك بعدما حجبت خلال دورة 1423، وحصل عليها الدكتور محمد حسين نصار من مصر، ثم حجبت مرة أخرى في عام 1425، وحصل عليها في عام 1426 (بالاشتراك) كل من الدكتور تمام حسن عمر من مصر، والدكتور عبدالقادر فاسي فهري من المغرب، أما في عام 1427 فقد حاز عليها الأستاذ الدكتور محمد عبدالله العمري من المغرب، وفي عام 1428 كانت الجائزة من نصيب البروفيسور أحمد مطلوب الناصري، وفي عام 1429 كانت للبروفيسور عبدالعزيز المانع من السعودية.
وأخيرا، في عام 1430 حقق الجائزة البروفيسور عبدالرحمن الهواري الحاج صالح من الجزائر.
وكانت جائزة "اللغة العربية والأدب" قد سبق حجبها ثلاث مرات خلال السنوات العشرالأخيرة وذلك في دورة الجائزة لعام 1423، و1425، إضافة إلى هذا العام 1431.
يذكر أن الجائزة قد حازها في عام 1419 كل من الدكتورة مكارم أحمد الغمري من مصر، والدكتور سعيد عبدالسلام علوش من المغرب، وفي عام 1420، كانت من نصيب الدكتور عبدالله الطيب من السودان، والدكتور عزالدين إسماعيل عبدالغني من مصر، وفي عام 1421 حاز عليها بالاشتراك كل من الدكتور إبراهيم عبدالرحيم السعافين من الأردن، والدكتور منصور الحازمي من السعودية، وفي عام 1422، حصدها الدكتور حسام الدين أمين الخطيب من سوريا، والدكتور حسني محمود حسين من الأردن.
وعاودت الجائزة حضورها في عام 1424، وذلك بعدما حجبت خلال دورة 1423، وحصل عليها الدكتور محمد حسين نصار من مصر، ثم حجبت مرة أخرى في عام 1425، وحصل عليها في عام 1426 (بالاشتراك) كل من الدكتور تمام حسن عمر من مصر، والدكتور عبدالقادر فاسي فهري من المغرب، أما في عام 1427 فقد حاز عليها الأستاذ الدكتور محمد عبدالله العمري من المغرب، وفي عام 1428 كانت الجائزة من نصيب البروفيسور أحمد مطلوب الناصري، وفي عام 1429 كانت للبروفيسور عبدالعزيز المانع من السعودية.
وأخيرا، في عام 1430 حقق الجائزة البروفيسور عبدالرحمن الهواري الحاج صالح من الجزائر.
الخميس، 27 يناير 2011
لغة مُقَدَّسَة.. ولكنها مُهانة!
د.خالد صالح الحميدي
إذا تجاوزنا ما جاء عن قِدم اللغة العربية، وتأثيرها في الكثير من اللغات، وأن آدم نطقَ بها، وأنها لغة أهل الجنة، وغير ذلك.. سنجد، حقيقة، أنه يكفينا للدفاع عنها أنها لغة مقدسة، كونها لغة القرآن الكريم، ولغة التشريع، ولا تُقام الصلاة إلا بها.. وهي لغة الشعائر لعدد من الكنائس المسيحية، لا بل، كل من سبر أغوارها، سمت روحه وتلذذت نفسه.. لاحتوائها على كل ما يلزم الإنسان، من شعر ونثر وقصة وتصوير ومعنى ومنطق وقصد وجمال.. إنها، كما يقول ابن كثير: "أفصح اللغات، وأَبْيَنها وأوسعها، وأكثرها تأدية للمعاني التي تقوم بالنفوس، فلهذا أُنزلَ أشرف الكتب بأشرف اللغات". كما حافظت على توهجها وعالميتها، إذ ساهمت، لا بل أسّست، للكثير من العلوم والاكتشافات التي عرفتها البشرية.
ولكنها، وبعد تخلّف أهلها، ودخول اللغة الإنجليزية للعالم العربي مع الاستعمار، وقيام أمريكا، فيما بعد، بتعزيز انتشارها، بقوتها الاقتصادية والعسكرية، وجامعاتها، ومكانتها الرائدة في التقنية.. ومن ثم تسارع العولمة الثقافية والاقتصادية التي فرضت نفسها، استعلت الإنجليزية، وحُقَّ لها أن تستعلي كونها لغة الأقوى! وترسخت كلغة للمال والأعمال، ومفتاحاً لاحتلال المراكز القيادية، إذ إن الاعتقاد الرأسمالي أوحى بأن من يرطن بالإنجليزية إنما يقول الحق ويفسر العلم دون شك؟! في المقابل، تشرئب الأعناق للمتحدث بالعربية، ناظرة إلى حجمه، ولون عينيه، بتلمظ وتململ، سائلة عن شهاداته، محصية لخبراته، مأخوذة منه بالعزة! لم تعد الشهادات والخبرات هي المحك ما دامت عربية الشكل والمضمون؟!
كذلك، أُهملت العربية، لساناً وتعاملاً، خاصة في بعض الدول الإسلامية، جراء كثافة أعداد العمالة غير العربية، لتصبح حروفاً مجزّأة تُخالطها حروف أخرى من لغات أخرى، بلهجات ولكنات مختلفة.. فاستشرت لغة هجينة مُستحْدَثة، أصبح العربي معها في مواجهة لج ثقافي – لغوي، فسيفسائي تثاقفي بغيض!
لا بل، وصل الإهمال إلى حد الإهانة! إذ أصبحت هذه اللغة المقدسة، بما هي مادة للمطبوعات الورقية، تُداس بالأقدام، وتُستعمل للف الخضراوات، ولتنظيف الزجاج، وربما المراحيض، ليس من قِبل الخدم فحسب، بل من قبل العربي نفسه! ثم، لم يعد غريباً أن تسير في الشوارع فترى المطبوعات العربية وقد رُميت هنا وهناك، وإن شعرت بالغيرة على قدسيتها، عليك حينئذٍ أن تقوم بجمعها ووضعها في مكان ما بعيداً عن الإهانة، ولكن، لكثرتها، تعود وتستسلم وتغض الطرف وتسير في طريقك! فالأمر لا يكفيه تدخل فردي، لا بل حتى الأفراد سلبيين، إذ يندر أن تجد من يشاركك هذه الغيرة، ففي الغالب تُداس ولا يُبَالى بها! تصوّر أنك تسير في الشارع فتدوس على عبارة: "لا إله إلا الله" أو "محمد رسول الله".. حتى كتيبات الأذكار مرمية في الطرقات.. لغة مقدسة، ولكنها مُهانة!
كذلك مهانة لساناً، إذ الكثير من البيوت لا يتكلم أهلها سوى الإنجليزية! تسأل لماذا؟ فتأتيك الإجابة: هي لغة العصر، لغة المال، لغة المستقبل! وأي مستقبل؟ وها هي لغات كالصينية واليابانية، إلى جانب العربية، تنتظر اكتمال الدائرة لتعود وتأخذ مكانتها في عالم المال والأعمال..
ويبقى السؤال الحاضر على الدوام: إذا كانت ثقافة المجتمع تعتمد على الفكر، فتدخل اللغة كوسيلة لهذا الفكر، للتواصل المادي والمعنوي لتشكل ثقافة المجتمع، بالتالي، عدم وجود لغة واحدة مسيطرة في المجتمع، يندمج من خلالها أفراده، يعني عدم وجود ثقافة مجتمعية متناغمة وبناءة.. فاللغة تعني أحد مرتكزات السلوك وأحد أنماط التفكير المكتسبين، ضمن نسيج متجانس، وضياع هذين المرتكزين يؤدي إلى ضياع اللغة، وضياع التجانس المجتمعي، بفعل سيطرت التثاقف على الثقافة.. بمعنى: تفوق ثقافة أو ثقافات، بما فيها من لغة أو لغات، بواسطة الاحتكاك (غير العرب) على ثقافة أخرى (ونقصد هنا العربية) بسبب ضرورات الحياة، أو الغلبة العددية، أو غير ذلك.. والأمر هنا شائك، لما يتضمنه من سلبيات، وآثار آنية ومستقبلية، غير حميدة على سائر المستويات.
فمن الواجب أن نغار على لغتنا، ونصونها من الإهانة.. وليكن ذلك من خلال حملة "احترام اللغة العربية"، تُطرح من خلالها ثقافة المحافظة على هذه اللغة، عبر مؤسسات المجتمع المدني، ومؤسسات الدولة، خاصة، هيئة الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، ووسائل الإعلام، وخُطباء الجمعة.. لإظهار قدسية هذه اللغة، وحُرمة أهانتها، فهي هويتنا، بها البركة والعزَّة، والملاذ إلى مرضاة الله .. وإن كانت، بنا أو بدوننا، لغة لن تندثر باندثارنا وستزدهر بغيرنا.
المصدر
ولكنها، وبعد تخلّف أهلها، ودخول اللغة الإنجليزية للعالم العربي مع الاستعمار، وقيام أمريكا، فيما بعد، بتعزيز انتشارها، بقوتها الاقتصادية والعسكرية، وجامعاتها، ومكانتها الرائدة في التقنية.. ومن ثم تسارع العولمة الثقافية والاقتصادية التي فرضت نفسها، استعلت الإنجليزية، وحُقَّ لها أن تستعلي كونها لغة الأقوى! وترسخت كلغة للمال والأعمال، ومفتاحاً لاحتلال المراكز القيادية، إذ إن الاعتقاد الرأسمالي أوحى بأن من يرطن بالإنجليزية إنما يقول الحق ويفسر العلم دون شك؟! في المقابل، تشرئب الأعناق للمتحدث بالعربية، ناظرة إلى حجمه، ولون عينيه، بتلمظ وتململ، سائلة عن شهاداته، محصية لخبراته، مأخوذة منه بالعزة! لم تعد الشهادات والخبرات هي المحك ما دامت عربية الشكل والمضمون؟!
كذلك، أُهملت العربية، لساناً وتعاملاً، خاصة في بعض الدول الإسلامية، جراء كثافة أعداد العمالة غير العربية، لتصبح حروفاً مجزّأة تُخالطها حروف أخرى من لغات أخرى، بلهجات ولكنات مختلفة.. فاستشرت لغة هجينة مُستحْدَثة، أصبح العربي معها في مواجهة لج ثقافي – لغوي، فسيفسائي تثاقفي بغيض!
لا بل، وصل الإهمال إلى حد الإهانة! إذ أصبحت هذه اللغة المقدسة، بما هي مادة للمطبوعات الورقية، تُداس بالأقدام، وتُستعمل للف الخضراوات، ولتنظيف الزجاج، وربما المراحيض، ليس من قِبل الخدم فحسب، بل من قبل العربي نفسه! ثم، لم يعد غريباً أن تسير في الشوارع فترى المطبوعات العربية وقد رُميت هنا وهناك، وإن شعرت بالغيرة على قدسيتها، عليك حينئذٍ أن تقوم بجمعها ووضعها في مكان ما بعيداً عن الإهانة، ولكن، لكثرتها، تعود وتستسلم وتغض الطرف وتسير في طريقك! فالأمر لا يكفيه تدخل فردي، لا بل حتى الأفراد سلبيين، إذ يندر أن تجد من يشاركك هذه الغيرة، ففي الغالب تُداس ولا يُبَالى بها! تصوّر أنك تسير في الشارع فتدوس على عبارة: "لا إله إلا الله" أو "محمد رسول الله".. حتى كتيبات الأذكار مرمية في الطرقات.. لغة مقدسة، ولكنها مُهانة!
كذلك مهانة لساناً، إذ الكثير من البيوت لا يتكلم أهلها سوى الإنجليزية! تسأل لماذا؟ فتأتيك الإجابة: هي لغة العصر، لغة المال، لغة المستقبل! وأي مستقبل؟ وها هي لغات كالصينية واليابانية، إلى جانب العربية، تنتظر اكتمال الدائرة لتعود وتأخذ مكانتها في عالم المال والأعمال..
ويبقى السؤال الحاضر على الدوام: إذا كانت ثقافة المجتمع تعتمد على الفكر، فتدخل اللغة كوسيلة لهذا الفكر، للتواصل المادي والمعنوي لتشكل ثقافة المجتمع، بالتالي، عدم وجود لغة واحدة مسيطرة في المجتمع، يندمج من خلالها أفراده، يعني عدم وجود ثقافة مجتمعية متناغمة وبناءة.. فاللغة تعني أحد مرتكزات السلوك وأحد أنماط التفكير المكتسبين، ضمن نسيج متجانس، وضياع هذين المرتكزين يؤدي إلى ضياع اللغة، وضياع التجانس المجتمعي، بفعل سيطرت التثاقف على الثقافة.. بمعنى: تفوق ثقافة أو ثقافات، بما فيها من لغة أو لغات، بواسطة الاحتكاك (غير العرب) على ثقافة أخرى (ونقصد هنا العربية) بسبب ضرورات الحياة، أو الغلبة العددية، أو غير ذلك.. والأمر هنا شائك، لما يتضمنه من سلبيات، وآثار آنية ومستقبلية، غير حميدة على سائر المستويات.
فمن الواجب أن نغار على لغتنا، ونصونها من الإهانة.. وليكن ذلك من خلال حملة "احترام اللغة العربية"، تُطرح من خلالها ثقافة المحافظة على هذه اللغة، عبر مؤسسات المجتمع المدني، ومؤسسات الدولة، خاصة، هيئة الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، ووسائل الإعلام، وخُطباء الجمعة.. لإظهار قدسية هذه اللغة، وحُرمة أهانتها، فهي هويتنا، بها البركة والعزَّة، والملاذ إلى مرضاة الله .. وإن كانت، بنا أو بدوننا، لغة لن تندثر باندثارنا وستزدهر بغيرنا.
المصدر
الثلاثاء، 25 يناير 2011
شباب : «العربيزي» .. لغة شبابية لا تهدف لطمس لغتنا العربية!
شباب الدستور - نضال لطفي اللويسي
nidal.alwisi@yahoo.com
Date : 26-01-2011انتشرت في الآونة الأخيرة بين فئة الشباب ظاهرة الكتابة والحديث بلغة العربيزي "اللغتين الانجليزية والعربية" بالإضافة إلى الكتابة بلغة العربيزي ، ويستخدم فيها الأحرف والأرقام للدلالة على كلمات معينة فمثلا رقم 6 يعني ط ، رقم 9 يعني ص ، 3 يعني ع.. وهكذا ، فالبعض قد لا يتقن هذه اللغة نظرا لصعوبتها أحيانا وعدم القدرة على استيعابها ، مثالها Mr7ba kefk a5bark وتعني مرحبا كيفك؟ اخبارك؟.
شباب الدستور التقى عددا من الشباب والشابات للحديث عن هذا الموضوع.
رشا العدوان
تقول رشا: "العربيزي" موضة مثل أي موضة وصلتنا بطريقة أو أخرى تحكي كلمة عربي وعشرة انجليزة ، حلو ورائع الشخص يتكلم لغات جانبية بالاضافة للغة الأم لما تسافر لما تحاور شخص مثقف تستخدم وسائل التكنولوجيا بس سؤال بسيط ليش (الأجانب) ما يستخدموا لغتنا بحياتهم مثلنا سؤال فرصة نفكر فيه لغتهم أو لغتنا لنختار".
منى جودة
وتقول منى "انا أؤيد اللغة المعروفة بالعربيزي ، فأنا لا أرى إنها كما يقال تسيء للغتنا العربية وللغة الانجليزية فكلا اللغتين محفوظة ومتداولة في حياتنا اليومية ومستخدمة بالشكل الصحيح في الوثائق والمعاملات الرسمية وفي مناهج التدريس ، فمن بين وسائل التسهيل الكثيرة المنتشرة في العصر الحالي (لغة العربيزي) فهي تستخدم من باب السرعة وتبسيط الأمور في messages مثلا عبر mobile وفي comments على face book وكذلك في emails وغيرها ، أي إنها تستخدم في كل ما هو إلكتروني وعادة تكون هذه الالكترونيات لغتها الأساسية هي اللغة الانجليزية لذا وللسرعة نحن نستخدم الأحرف الانجليزية في الكتابة بدلاً من ان نحول للعربية وبما أنه ليس الجميع قادرا على فهم وكتابة الكلمات الانجليزية فتكون النتيجة إننا نعبر بكلماتنا العربية من خلال أحرف انجليزية ، كما انه كون الكلمات والجمل باللغة الانجليزية أطول منها باللغة العربية فنحن نلاحظ ان عدد الأحرف الانجليزية المتاحة في sms أكثر من عدد الأحرف العربية المتاحة في sms وبالتالي فنحن نستطيع ان نكتب أكثر بنفس القيمة المدفوعة ، وان هذه اللغة لسهولتها والسرعة في استخدامها وكونها اقتصادية - إذا أمكن القول - ولأنها مناسبة لمختلف الأجيال ، أصبحت دارجة والكل يعرفها لذا فما الضير من استخدامها،، فهي ليست كما يصفها البعض بأنها تهدف إلى طمس ثقافة لغتنا العربية والإساءة للغة الانجليزية ، هي مجرد لغة سهلة تهدف إلى تبسيط عملية التواصل عبر الوسائل الالكترونية وغيرها ، وكما ذكرت فإن اللغات الأساسية ستبقى متداولة بين الناس وستبقى محفوظة ولها مكانتها وقيمتها الاجتماعية.
هالة الرمحي
وتجد هالة انها لغة كثيرة الانتشار لسهولة فهمها والتعامل معها بين الشباب فأصبحت لغة العصر ، قد يرى بعض الأشخاص الكبار أنها غير مفهومة وغير منطقية ولكن بنظرنا هي من أكثر اللغات شعبية ولغة تعطي الخصوصية لبعض الشباب القادر على فهمها.
هلا اللويسي
تقول هلا ان هذه اللغة هي لغة الشباب ولغة العصر لتميزها بالخصوصية ، حيث لها اختصاراتها وعملية فهمها سهلة التعامل ومختصرة.
مجد محمد
أما مجد فتقول "هي لغة خاصة بالشباب تفرضها الظروف ولعل أهمها عدم توافر لوحة مفاتيح عربية لديهم فأصبحوا يكتبون بأحرف إنجليزية ومعانْ عربية وأصبحت هذه اللغة سهلة جدا لمن تعود عليها مثل الهمزة 2 وحرف ع 3 وحرف ص 9 وبقية الحروف تنطق كما هي في اللغة الانجليزية بمفرداتها العربية".
وتضيف "لا أحبذ استخدام هذه اللغة كما يستخدمونها و هي أصلا كتابه لاتينية تدمر اللغة العربية وأنا لا أستخدم هذه اللغة فهي لا تعبر عن ثقافتي وديني".
خلدون عبيد
يقول خلدون "انا استخدم هذه اللغة كثيرا ويوميا فاستخدمها لسهولة التواصل مع الأصدقاء فربما أكون أدردش مع أكثر من شخص واحدهم لا يفهم اللغة العربية فأضطر للتواصل مع الباقي باستخدام العربيزي لأتجنب تحويل الكتابة من الانجليزية للعربية والعكس صحيح ولا تتعلق بدردشة الانترنت بل استخدمها بالرسائل القصيرة لتجنب تغير اللغة أيضا واعتقد ان معظم الشباب يستخدمون هذه اللغة ويفهمون اختصاراتها لتسهيل التواصل بينهم".
شباب الدستور التقى عددا من الشباب والشابات للحديث عن هذا الموضوع.
رشا العدوان
تقول رشا: "العربيزي" موضة مثل أي موضة وصلتنا بطريقة أو أخرى تحكي كلمة عربي وعشرة انجليزة ، حلو ورائع الشخص يتكلم لغات جانبية بالاضافة للغة الأم لما تسافر لما تحاور شخص مثقف تستخدم وسائل التكنولوجيا بس سؤال بسيط ليش (الأجانب) ما يستخدموا لغتنا بحياتهم مثلنا سؤال فرصة نفكر فيه لغتهم أو لغتنا لنختار".
منى جودة
وتقول منى "انا أؤيد اللغة المعروفة بالعربيزي ، فأنا لا أرى إنها كما يقال تسيء للغتنا العربية وللغة الانجليزية فكلا اللغتين محفوظة ومتداولة في حياتنا اليومية ومستخدمة بالشكل الصحيح في الوثائق والمعاملات الرسمية وفي مناهج التدريس ، فمن بين وسائل التسهيل الكثيرة المنتشرة في العصر الحالي (لغة العربيزي) فهي تستخدم من باب السرعة وتبسيط الأمور في messages مثلا عبر mobile وفي comments على face book وكذلك في emails وغيرها ، أي إنها تستخدم في كل ما هو إلكتروني وعادة تكون هذه الالكترونيات لغتها الأساسية هي اللغة الانجليزية لذا وللسرعة نحن نستخدم الأحرف الانجليزية في الكتابة بدلاً من ان نحول للعربية وبما أنه ليس الجميع قادرا على فهم وكتابة الكلمات الانجليزية فتكون النتيجة إننا نعبر بكلماتنا العربية من خلال أحرف انجليزية ، كما انه كون الكلمات والجمل باللغة الانجليزية أطول منها باللغة العربية فنحن نلاحظ ان عدد الأحرف الانجليزية المتاحة في sms أكثر من عدد الأحرف العربية المتاحة في sms وبالتالي فنحن نستطيع ان نكتب أكثر بنفس القيمة المدفوعة ، وان هذه اللغة لسهولتها والسرعة في استخدامها وكونها اقتصادية - إذا أمكن القول - ولأنها مناسبة لمختلف الأجيال ، أصبحت دارجة والكل يعرفها لذا فما الضير من استخدامها،، فهي ليست كما يصفها البعض بأنها تهدف إلى طمس ثقافة لغتنا العربية والإساءة للغة الانجليزية ، هي مجرد لغة سهلة تهدف إلى تبسيط عملية التواصل عبر الوسائل الالكترونية وغيرها ، وكما ذكرت فإن اللغات الأساسية ستبقى متداولة بين الناس وستبقى محفوظة ولها مكانتها وقيمتها الاجتماعية.
هالة الرمحي
وتجد هالة انها لغة كثيرة الانتشار لسهولة فهمها والتعامل معها بين الشباب فأصبحت لغة العصر ، قد يرى بعض الأشخاص الكبار أنها غير مفهومة وغير منطقية ولكن بنظرنا هي من أكثر اللغات شعبية ولغة تعطي الخصوصية لبعض الشباب القادر على فهمها.
هلا اللويسي
تقول هلا ان هذه اللغة هي لغة الشباب ولغة العصر لتميزها بالخصوصية ، حيث لها اختصاراتها وعملية فهمها سهلة التعامل ومختصرة.
مجد محمد
أما مجد فتقول "هي لغة خاصة بالشباب تفرضها الظروف ولعل أهمها عدم توافر لوحة مفاتيح عربية لديهم فأصبحوا يكتبون بأحرف إنجليزية ومعانْ عربية وأصبحت هذه اللغة سهلة جدا لمن تعود عليها مثل الهمزة 2 وحرف ع 3 وحرف ص 9 وبقية الحروف تنطق كما هي في اللغة الانجليزية بمفرداتها العربية".
وتضيف "لا أحبذ استخدام هذه اللغة كما يستخدمونها و هي أصلا كتابه لاتينية تدمر اللغة العربية وأنا لا أستخدم هذه اللغة فهي لا تعبر عن ثقافتي وديني".
خلدون عبيد
يقول خلدون "انا استخدم هذه اللغة كثيرا ويوميا فاستخدمها لسهولة التواصل مع الأصدقاء فربما أكون أدردش مع أكثر من شخص واحدهم لا يفهم اللغة العربية فأضطر للتواصل مع الباقي باستخدام العربيزي لأتجنب تحويل الكتابة من الانجليزية للعربية والعكس صحيح ولا تتعلق بدردشة الانترنت بل استخدمها بالرسائل القصيرة لتجنب تغير اللغة أيضا واعتقد ان معظم الشباب يستخدمون هذه اللغة ويفهمون اختصاراتها لتسهيل التواصل بينهم".
nidal.alwisi@yahoo.com
المصدر
الخميس، 20 يناير 2011
العربية ليست لغة كلاسيكية
صلاح بوسريف
2011-01-19
لا يمكن لمن يدافع عن لغة ما أن يستعمل في مقابلها لغة أخرى باعتبارها ميتةً، أو لم تعد صالحةً للعلم ولا للمعرفة، أي باعتبارها لغة 'كلاسيكيةً'، بهذا المعنى الذي يُخْفِي في طياته الكثير من التَّنَدُّر والازدراء.
في هذه الصفة التي تُطْلَق على العربية اليوم، وهي ترجمة للعبارة الفرنسية Larabe claique ما يشي، طبعاً، بالموقف من العربية، عند مَنْ يحرصون على استعمال هذه العبارة، أو هذه الصفة، سواء أكانوا من العرب أم من غيرهم.
من يعرف تاريخ العربية، يُدْرِك جيداً، أن عربية اليوم ليست هي عربية الأمس، وأنَّ العربية مرَّت بأطوار كثيرة، نَقَلَتْها من ' لغة نَمَِطيةٍ '، كما يريد لها بعض من ينتسبون لـ 'اللسانيات النسبية'، أو الذين يربطونها بالنص الديني، باعتبارها لغة القرآن، أي تلك اللغة التي لا تقبل التبديل، أو الإضافة، ما يعني أنها ' كلام الله '.
لم تكن العربية لغةً ميتةً، كما أنها ليست ' كلام الله '. فهي لغة عربية، بانتسابها للناطقين بها، وهـي لغة الشِّعر الجاهلـي، التـي بها ' كتب ' الشُّعراء العرب ممن كانوا وثنيين، قبل ظهور الإسلام، أو مَنْ كانوا مسيحيين، أو انتسبوا لمعتقدات أخرى مما كان معروفاً في هذه المرحلة من تاريخ الجزيرة العربية. فالقرآن نزل بالعربية، وَعْياً منه بضرورة التواصل مع مَنْ تَوَجَّهَت إليهم الدعوة، فهو لم يكن ممكناً أن ينزل عليهم بلغة أخرى، ما دفع إلى التأكيد أنه نزل بلسانٍ عربي، تحقيقاً لشرط التبليغ، أو تسهيل وصول الرسالة لمن ذهبت إليهم. فلغة القرآن، هي أسلوب من أساليب العربية، وهي جاءت كَتَحَدٍّ لعربية الشِّعر، أو للعربية السائدة، آنذاك، أو هي، بالأحرى، جاءت كتعبير عن هذا التنوع الذي تميزت به العربية، وما تختزنه في نفسها من إمكاناتٍ للابتداع والإضافة.
فإذا كان القرآن، باعتباره ثورة على القيم السائدة فـي ' المجتمع العربي '، بما حَمَله من تَصَوُّراتٍ جديدة، أكَّد عليها هو نفسه، قياساً بمعتقدات ' الآباء '، ورفضه لسيادة التقليد والتبعية، كما جاء في الآيات؛ ' قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا آباءَنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ ' [الشعراء، 74]، ' بَلْ نَتَّبِع مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا '[لقمان، 21]، ' حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ' [المائدة، 104]، جاء لبداية عهد جديد، فكيف يمكنه أن يرفض التجديد والابتداع والإضافة، أو يعمل على خلق آباء جدداً، لاخَلَفَ لهم..
فالقرآن، لغة، هو أحد تعبيراتِ العربيةِ، وهو أحد إمكاناتها الكبيرة في ابتداع اللغة، وفي تنويع أساليبها، كما أنه، كان، بإقدامه على استعمال تعبيراتٍ غير عربية في خطابه، يُشِير إلى ذلك التَّلاقُح الذي لا يمكن لأي لغة، كيفما كانت أن تَنْجُوَ منه، باعتبار اللغات كائنات حية، ما دامت تجري على ألسنة الناطقين بها، أو تُسْتَعْمَل في كتاباتهم، وما دامت تقبل اللقاء بغيرها من اللُّغات، بحكم كثير من العلائق، التي لم تعد تكفي المَعْرِفةُ وحدها، في إحداثها، خصوصاً في وقتنا الراهن، حيث أصبحت إمكانات التواصل والإعلام أكثر شساعةً مما كانت عليه قبل عشر سنواتٍ، دون أن نعود إلى زمن الرسول.
الذين يحرصون على اعتبار العربية لغة كلاسيكية، وهم، طبعاً، يتحدثون عن العربية اليوم، وليس عن عربية القواميس القديمة، وتحديداً ' لسان العرب ' الذي اكتفى فيه ابن منظور بعربية ما قبل التدوين، لا بما بعدها، يفعلون نفس ما يفعله الذين يخرجون بالعربية من دُنَيَوِيَتِها، لِيُلْبِسُوها لِبَاسَ السَّمَاء. لا فَرْقَ، خصوصاً حين تكون صفة كلاسيكي تعني ما ثَبُتَ على صورة ما، وأصبح نمطياً، لا يقبل الابتداع و التجديد أو الإضافة، أي أن قواعده وقوانينه راسخة ولا تقبل التبديل.
يقول أحد هؤلاء ' أما العربية فقد فقدت الانتساب إلى قومها مذ اختارها الله عز وجل لكلامه في القرآن الكريم، وزاد رسوله الأمين (ص) فعبَّر بها عن سُنَّتِه المُوَجَّهَة إلى المسلمين فصارت بذلك لسان حضارة القرآن ' [محمد الأوراغي، لسان حضارة القرآن،ص96].
من لغةٍ تَخََشَّبَتْ في الأرض، إلى لغةٍ لَبِسَت أَزَلَ السَّماء. في الحالتين، فهي لن تكون سوى لغةٍ انتهت، وأصبحت غير قابلة للاستعمال إلاَّ وفق قوانينها الثابتة المستقرة، أو ما يُسمِّيه صاحب ' لسان حضارة القرآن '، بـ ' القوانين الزجرية ' التي ينبغي أن نضرب بها على يَدِ كل مَنْ حاول خلق طريقة في التعبير، أو أسلوب في الكتابة، هو غير أسلوب القرآن، أو ما يُسَمِّيه بـ ' كلام الله '، هذا التعبير الذي سبق لميرلو بونتي أن استعمله في سياق مغاير.
عرفت العربية لحظات وَهَنٍ وضعف، كما عرفت الثقافة العربية، انحساراً، كانت له انعكاساتُه على اللغة، وعلى الحضارة، ما جعل فكرة ' النهضة '، أو ' اليقظة ' أو ' البعث والإحياء '، تظهر، باعتبارها نوعاً من الوعي بالمأزق الذي صارت عليه هذه الثقافة، وما كانت تحمله من قيم، وهو، على أي، وعي شرع في إعادة قراءة ماضيه، و البحث في أسباب هذا الانحسار، وهذا ' التخلف ' الذي طال كل أسباب الوجود العربي.
ففي مقابل هذا الوَهَن، في اللغة، شعرياً، وهو ما حدث مع مختلف السلفيات التي ظهرت في زمن ' النهضة '، عمل الإحيائيون على النظر إلى الماضي، باعتباره مُنْقِداً، أو مَخْرَجاً من هذا المأزق، أي باعتبار الماضي هو الحل لمشكلات الحاضر. فبدل أن تذهب هذه السلفيات إلى الأمام، عادت إلى الوراء الذي بدا لها مثالاً، وقُدْوَةً، كونه كان فترة قوة وازدهار وغَلَبَة، أوهي الفترة التي كانت فيها اللغة عربيةً صميمةً.
يعرف الباحث في تاريخ العربية، أنَّ هذه اللغة، حتى في لحظات الجمع والتقعيد، لم تخلُ من التَّلاقُحات التي كانت تأتيها، إما من نفسها، أي من مجموع اللهجات التي كانت محايثةً لها، أو من خارجها، بفعل العلاقات التي ربطت العرب بغيرهم من الأمم. ليس هذا فقط، بل إنَّ ما سجله النقاد على الشُّعراء، في الجاهلية كما في المراحل التالية عليها، من مؤخذات تتعلق بـ ' أغلاط ' الشعراء، وما شاب شعرهم من مشكلات لغويةٍ، كان أحد مظاهر الصراع الذي كانت اللغة تعمل من خلاله، على كَسْر المعيار، وتأكيد قدرتها على الحياة، كون اللغة، كائناً حياً، وليست مجرد أداة جامدة لا حياةَ فيها.
ما يعني أنَّ الحديث عن العربية باعتبارها لغةً واحدة، هي نفسها عبر مختلف مراحل تاريخها، لم يحدث فيها أي تغيير وتبديل، في ألفاظها وتراكيبها، وفي تشبيهاتها ومجازاتها، هو محض هُرَاء، من جهتين:
1. من جهة مَنْ نظروا إليها بأنها لغة مقدَّسَةً راسخةً، لا تقبل التبديل.
2. ومن جهة مَنْ ينظرون إليها بأنها انتهت وانكفأت على نفسها، في مقابل غيرها من اللغات أو اللهجات.
فالعربية، التي بها يكتب هؤلاء، أنفسهم، ليست هي لغة القرآن، ولا لغة ابن منظور. بدليل أن الصحف ووسائل الإعلام المختلفة، التي تنشر كتاباتهم، تستعمل العربية، كما يستعملونها هُم، ليس باعتبارها لغة كلاسيكية، أي اللغة التي بها كتب فارس الشدياق أو رفاعة الطهطاوي، إبان فترة ' النهضة '، أو لغة الكواكبي وجمال الدين الأفغاني، كما أنها ليست لغة السَّماء، أو لغة لله. عربية اليوم هي انعكاس لمجموع التحوُّلات التي تجري على الأرض. صحيح أنَّ ثمة مشكلات في علاقة العربية بالمفاهيم و التصورات العلمية الحديثة، وما يعتري ترجمة كثير من المفاهيم العلمية وغيرها مما له صلة بمجالات المعرفة المختلفة، خصوصاً ما يتعلق منها بشبكة التقانة الرقمية الحديثة، وكيفية نقل العربية من وضع التلفظ التقليدي المرتبط بالكتابة الورقية، أو وسائل الطباعة التقليدية، إلى هذه الفضاءات الرقمية الواسعة، بأسهل الطُّرُق وأسرعها. وهي، طبعاً، من المهام التي لا يمكن أن نُلقيها على عاتق الأفراد، لأنها مهام لا يمكن أن تنجزها إلاَّ الدول، بما لها من إمكانات، ومؤسساتٍ، خصوصاً فـي مجال البحث العلمي، وبما يمكن أن تَسُنَّهُ،
هذه الدول، من قوانين، وأن تضعه من إجراءات تتيح للباحثين، أو العاملين في هذا المجال أن يبتدعوا الصيغ والمقترحات الممكنة لوضع العربية في سياقها العلمي و المعرفي الحديثين.
ما يجري اليوم من ندوات ولقاءاتٍ، وما يُعقد من جلساتٍ حول العربية، في مجموع الوطن العربي، بما فيه ما يجري في المغرب، هو، ربما، نوع من اليقظة المتأخِّرَة، لأنها، بالأسف، لم تتم من خلال وعي الحاجة إلى تطوير اللغة وتحديث آليات عملها، بقدر ما جاءت كردٍّ على ما تتعرض له العربية من هجماتٍ متتالية، ومن أكثر من طرف وجهةٍ. ليس بهذا المعنى يمكن أن تقوم هذه الجهات، بدورها في قيادة العربية نحو المستقبل، فهي بعكس ذلك تزيد الطين بَلَّةً، كونها ما زالت تعمل خارج سياق ما يجري في واقعنا اللغوي، فهؤلاء يجتمعون للحديث عن لغةٍ، هي اللغة التي دأب أصحاب ' حضارة القرآن ' على اعتبارها اللغة البديلة، كما دأب غيرهم، على اعتبارها لغة كلاسيكية، بنوع من التعميم، أو بنوع من التعتيم، بالأحرى.
لا ينظر هؤلاء إلى لغة الإبداع، وما يجري من صلات بين العربية والعاميات العربية، وبين العربية وغيرها من مقترحات الترجمة أو التكييف اللغوي، الذي تقترحه كتابات مبدعيـن ومفكرين عرباً، والنظر
إلى اللغة، في سياقها التداولي. كل هذا غائب عن هؤلاء، وما يشغلهم هو المعيار والنمط، وهذا أحد أسباب اعتبار العربية لغة كلاسيكية، عند
مَنْ يبحثون عن حُجَّةٍ لإثبات صحة مواقفهم.
ليست العربية لغة مقدسة، ولا لغة كلاسيكية، فهي لغة تعيش واقعين؛ واقع المؤسسة التي تعمل على حصرها في المعيار والنمط، وتعمل على ترويجها وفق هذا المعنى. وواقع الابتداع الذي تعكسه بوضوح لغة الشِّعر والرواية و الفكر، كما تعكسه تلك الانزياحات التي تخرج بالعربية من بلاغة الماضي، إلى بلاغة الحاضر، الذي ليس هو الماضي بالضرورة.
فصرخة جبران الشهيرة، ' لكم لغتكم ولي لغتي '، حين عِيبَ عليه أنَّ عربيته ليست سليمةً، في مثل استعماله لكلمة ' تَحَمَّم ' بدل ' اسْتَحَمَّ '، كانت تعبيراً عن هذه المسافة التي تفصل بين هؤلاء، وبين مَنْ يعملون على العودة بالعربية إلى زمن التدوين والتقعيد، الذي أفضى إلى ما نحن فيه اليوم من نقاش حول جدوى، أولا جدوى العربية، في مختلف مجالات المعرفة، ناهيك عن حاجتنا لها في حياتنا اليومية.
في هذه الصفة التي تُطْلَق على العربية اليوم، وهي ترجمة للعبارة الفرنسية Larabe claique ما يشي، طبعاً، بالموقف من العربية، عند مَنْ يحرصون على استعمال هذه العبارة، أو هذه الصفة، سواء أكانوا من العرب أم من غيرهم.
من يعرف تاريخ العربية، يُدْرِك جيداً، أن عربية اليوم ليست هي عربية الأمس، وأنَّ العربية مرَّت بأطوار كثيرة، نَقَلَتْها من ' لغة نَمَِطيةٍ '، كما يريد لها بعض من ينتسبون لـ 'اللسانيات النسبية'، أو الذين يربطونها بالنص الديني، باعتبارها لغة القرآن، أي تلك اللغة التي لا تقبل التبديل، أو الإضافة، ما يعني أنها ' كلام الله '.
لم تكن العربية لغةً ميتةً، كما أنها ليست ' كلام الله '. فهي لغة عربية، بانتسابها للناطقين بها، وهـي لغة الشِّعر الجاهلـي، التـي بها ' كتب ' الشُّعراء العرب ممن كانوا وثنيين، قبل ظهور الإسلام، أو مَنْ كانوا مسيحيين، أو انتسبوا لمعتقدات أخرى مما كان معروفاً في هذه المرحلة من تاريخ الجزيرة العربية. فالقرآن نزل بالعربية، وَعْياً منه بضرورة التواصل مع مَنْ تَوَجَّهَت إليهم الدعوة، فهو لم يكن ممكناً أن ينزل عليهم بلغة أخرى، ما دفع إلى التأكيد أنه نزل بلسانٍ عربي، تحقيقاً لشرط التبليغ، أو تسهيل وصول الرسالة لمن ذهبت إليهم. فلغة القرآن، هي أسلوب من أساليب العربية، وهي جاءت كَتَحَدٍّ لعربية الشِّعر، أو للعربية السائدة، آنذاك، أو هي، بالأحرى، جاءت كتعبير عن هذا التنوع الذي تميزت به العربية، وما تختزنه في نفسها من إمكاناتٍ للابتداع والإضافة.
فإذا كان القرآن، باعتباره ثورة على القيم السائدة فـي ' المجتمع العربي '، بما حَمَله من تَصَوُّراتٍ جديدة، أكَّد عليها هو نفسه، قياساً بمعتقدات ' الآباء '، ورفضه لسيادة التقليد والتبعية، كما جاء في الآيات؛ ' قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا آباءَنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ ' [الشعراء، 74]، ' بَلْ نَتَّبِع مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا '[لقمان، 21]، ' حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ' [المائدة، 104]، جاء لبداية عهد جديد، فكيف يمكنه أن يرفض التجديد والابتداع والإضافة، أو يعمل على خلق آباء جدداً، لاخَلَفَ لهم..
فالقرآن، لغة، هو أحد تعبيراتِ العربيةِ، وهو أحد إمكاناتها الكبيرة في ابتداع اللغة، وفي تنويع أساليبها، كما أنه، كان، بإقدامه على استعمال تعبيراتٍ غير عربية في خطابه، يُشِير إلى ذلك التَّلاقُح الذي لا يمكن لأي لغة، كيفما كانت أن تَنْجُوَ منه، باعتبار اللغات كائنات حية، ما دامت تجري على ألسنة الناطقين بها، أو تُسْتَعْمَل في كتاباتهم، وما دامت تقبل اللقاء بغيرها من اللُّغات، بحكم كثير من العلائق، التي لم تعد تكفي المَعْرِفةُ وحدها، في إحداثها، خصوصاً في وقتنا الراهن، حيث أصبحت إمكانات التواصل والإعلام أكثر شساعةً مما كانت عليه قبل عشر سنواتٍ، دون أن نعود إلى زمن الرسول.
الذين يحرصون على اعتبار العربية لغة كلاسيكية، وهم، طبعاً، يتحدثون عن العربية اليوم، وليس عن عربية القواميس القديمة، وتحديداً ' لسان العرب ' الذي اكتفى فيه ابن منظور بعربية ما قبل التدوين، لا بما بعدها، يفعلون نفس ما يفعله الذين يخرجون بالعربية من دُنَيَوِيَتِها، لِيُلْبِسُوها لِبَاسَ السَّمَاء. لا فَرْقَ، خصوصاً حين تكون صفة كلاسيكي تعني ما ثَبُتَ على صورة ما، وأصبح نمطياً، لا يقبل الابتداع و التجديد أو الإضافة، أي أن قواعده وقوانينه راسخة ولا تقبل التبديل.
يقول أحد هؤلاء ' أما العربية فقد فقدت الانتساب إلى قومها مذ اختارها الله عز وجل لكلامه في القرآن الكريم، وزاد رسوله الأمين (ص) فعبَّر بها عن سُنَّتِه المُوَجَّهَة إلى المسلمين فصارت بذلك لسان حضارة القرآن ' [محمد الأوراغي، لسان حضارة القرآن،ص96].
من لغةٍ تَخََشَّبَتْ في الأرض، إلى لغةٍ لَبِسَت أَزَلَ السَّماء. في الحالتين، فهي لن تكون سوى لغةٍ انتهت، وأصبحت غير قابلة للاستعمال إلاَّ وفق قوانينها الثابتة المستقرة، أو ما يُسمِّيه صاحب ' لسان حضارة القرآن '، بـ ' القوانين الزجرية ' التي ينبغي أن نضرب بها على يَدِ كل مَنْ حاول خلق طريقة في التعبير، أو أسلوب في الكتابة، هو غير أسلوب القرآن، أو ما يُسَمِّيه بـ ' كلام الله '، هذا التعبير الذي سبق لميرلو بونتي أن استعمله في سياق مغاير.
عرفت العربية لحظات وَهَنٍ وضعف، كما عرفت الثقافة العربية، انحساراً، كانت له انعكاساتُه على اللغة، وعلى الحضارة، ما جعل فكرة ' النهضة '، أو ' اليقظة ' أو ' البعث والإحياء '، تظهر، باعتبارها نوعاً من الوعي بالمأزق الذي صارت عليه هذه الثقافة، وما كانت تحمله من قيم، وهو، على أي، وعي شرع في إعادة قراءة ماضيه، و البحث في أسباب هذا الانحسار، وهذا ' التخلف ' الذي طال كل أسباب الوجود العربي.
ففي مقابل هذا الوَهَن، في اللغة، شعرياً، وهو ما حدث مع مختلف السلفيات التي ظهرت في زمن ' النهضة '، عمل الإحيائيون على النظر إلى الماضي، باعتباره مُنْقِداً، أو مَخْرَجاً من هذا المأزق، أي باعتبار الماضي هو الحل لمشكلات الحاضر. فبدل أن تذهب هذه السلفيات إلى الأمام، عادت إلى الوراء الذي بدا لها مثالاً، وقُدْوَةً، كونه كان فترة قوة وازدهار وغَلَبَة، أوهي الفترة التي كانت فيها اللغة عربيةً صميمةً.
يعرف الباحث في تاريخ العربية، أنَّ هذه اللغة، حتى في لحظات الجمع والتقعيد، لم تخلُ من التَّلاقُحات التي كانت تأتيها، إما من نفسها، أي من مجموع اللهجات التي كانت محايثةً لها، أو من خارجها، بفعل العلاقات التي ربطت العرب بغيرهم من الأمم. ليس هذا فقط، بل إنَّ ما سجله النقاد على الشُّعراء، في الجاهلية كما في المراحل التالية عليها، من مؤخذات تتعلق بـ ' أغلاط ' الشعراء، وما شاب شعرهم من مشكلات لغويةٍ، كان أحد مظاهر الصراع الذي كانت اللغة تعمل من خلاله، على كَسْر المعيار، وتأكيد قدرتها على الحياة، كون اللغة، كائناً حياً، وليست مجرد أداة جامدة لا حياةَ فيها.
ما يعني أنَّ الحديث عن العربية باعتبارها لغةً واحدة، هي نفسها عبر مختلف مراحل تاريخها، لم يحدث فيها أي تغيير وتبديل، في ألفاظها وتراكيبها، وفي تشبيهاتها ومجازاتها، هو محض هُرَاء، من جهتين:
1. من جهة مَنْ نظروا إليها بأنها لغة مقدَّسَةً راسخةً، لا تقبل التبديل.
2. ومن جهة مَنْ ينظرون إليها بأنها انتهت وانكفأت على نفسها، في مقابل غيرها من اللغات أو اللهجات.
فالعربية، التي بها يكتب هؤلاء، أنفسهم، ليست هي لغة القرآن، ولا لغة ابن منظور. بدليل أن الصحف ووسائل الإعلام المختلفة، التي تنشر كتاباتهم، تستعمل العربية، كما يستعملونها هُم، ليس باعتبارها لغة كلاسيكية، أي اللغة التي بها كتب فارس الشدياق أو رفاعة الطهطاوي، إبان فترة ' النهضة '، أو لغة الكواكبي وجمال الدين الأفغاني، كما أنها ليست لغة السَّماء، أو لغة لله. عربية اليوم هي انعكاس لمجموع التحوُّلات التي تجري على الأرض. صحيح أنَّ ثمة مشكلات في علاقة العربية بالمفاهيم و التصورات العلمية الحديثة، وما يعتري ترجمة كثير من المفاهيم العلمية وغيرها مما له صلة بمجالات المعرفة المختلفة، خصوصاً ما يتعلق منها بشبكة التقانة الرقمية الحديثة، وكيفية نقل العربية من وضع التلفظ التقليدي المرتبط بالكتابة الورقية، أو وسائل الطباعة التقليدية، إلى هذه الفضاءات الرقمية الواسعة، بأسهل الطُّرُق وأسرعها. وهي، طبعاً، من المهام التي لا يمكن أن نُلقيها على عاتق الأفراد، لأنها مهام لا يمكن أن تنجزها إلاَّ الدول، بما لها من إمكانات، ومؤسساتٍ، خصوصاً فـي مجال البحث العلمي، وبما يمكن أن تَسُنَّهُ،
هذه الدول، من قوانين، وأن تضعه من إجراءات تتيح للباحثين، أو العاملين في هذا المجال أن يبتدعوا الصيغ والمقترحات الممكنة لوضع العربية في سياقها العلمي و المعرفي الحديثين.
ما يجري اليوم من ندوات ولقاءاتٍ، وما يُعقد من جلساتٍ حول العربية، في مجموع الوطن العربي، بما فيه ما يجري في المغرب، هو، ربما، نوع من اليقظة المتأخِّرَة، لأنها، بالأسف، لم تتم من خلال وعي الحاجة إلى تطوير اللغة وتحديث آليات عملها، بقدر ما جاءت كردٍّ على ما تتعرض له العربية من هجماتٍ متتالية، ومن أكثر من طرف وجهةٍ. ليس بهذا المعنى يمكن أن تقوم هذه الجهات، بدورها في قيادة العربية نحو المستقبل، فهي بعكس ذلك تزيد الطين بَلَّةً، كونها ما زالت تعمل خارج سياق ما يجري في واقعنا اللغوي، فهؤلاء يجتمعون للحديث عن لغةٍ، هي اللغة التي دأب أصحاب ' حضارة القرآن ' على اعتبارها اللغة البديلة، كما دأب غيرهم، على اعتبارها لغة كلاسيكية، بنوع من التعميم، أو بنوع من التعتيم، بالأحرى.
لا ينظر هؤلاء إلى لغة الإبداع، وما يجري من صلات بين العربية والعاميات العربية، وبين العربية وغيرها من مقترحات الترجمة أو التكييف اللغوي، الذي تقترحه كتابات مبدعيـن ومفكرين عرباً، والنظر
إلى اللغة، في سياقها التداولي. كل هذا غائب عن هؤلاء، وما يشغلهم هو المعيار والنمط، وهذا أحد أسباب اعتبار العربية لغة كلاسيكية، عند
مَنْ يبحثون عن حُجَّةٍ لإثبات صحة مواقفهم.
ليست العربية لغة مقدسة، ولا لغة كلاسيكية، فهي لغة تعيش واقعين؛ واقع المؤسسة التي تعمل على حصرها في المعيار والنمط، وتعمل على ترويجها وفق هذا المعنى. وواقع الابتداع الذي تعكسه بوضوح لغة الشِّعر والرواية و الفكر، كما تعكسه تلك الانزياحات التي تخرج بالعربية من بلاغة الماضي، إلى بلاغة الحاضر، الذي ليس هو الماضي بالضرورة.
فصرخة جبران الشهيرة، ' لكم لغتكم ولي لغتي '، حين عِيبَ عليه أنَّ عربيته ليست سليمةً، في مثل استعماله لكلمة ' تَحَمَّم ' بدل ' اسْتَحَمَّ '، كانت تعبيراً عن هذه المسافة التي تفصل بين هؤلاء، وبين مَنْ يعملون على العودة بالعربية إلى زمن التدوين والتقعيد، الذي أفضى إلى ما نحن فيه اليوم من نقاش حول جدوى، أولا جدوى العربية، في مختلف مجالات المعرفة، ناهيك عن حاجتنا لها في حياتنا اليومية.
الاشتراك في:
الرسائل (Atom)

.jpg)
